Cinta dan Cita-Cita
Sebenarnya sebelum saya menulis ini, saya berpikir apakah tulisan ini penting untuk diketahui oleh banyak orang atau tidak. Tapi saya merasa bahwa saya tidak cukup baik-baik saja tanpa menulis sesuatu hal tentang pengalaman pribadi saya. Walau tidak menginspirasi siapapun, saya harap tulisan ini bisa menjadi refleksi bagi siapapun yang membacanya. Sebelumnya sekali lagi, saya ucapkan terima kasih sudah berkenan membaca tulisan saya sampai pada tahap ini.
Anak Tunggal dalam Keluarga
Saya tidak bilang bahwa menjadi anak tunggal adalah sebuah hal yang spesial. Saya juga tidak bilang menjadi anak tunggal adalah sebuah nasib buruk. Siapapun orang bisa mengubah nasib buruk menjadi lebih baik. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana takdir hadir ke tiap masing-masing jiwa di dunia ini. Di dalam keluarga saya, hal terpenting dari sebuah perjalana hidup ialah menjadi berguna bagi sesama. Ibu saya sering mengingatkan saya bahwa, "Kita tidak akan tahu bagaimana kehidupan selanjutnya, tapi yang kita ketahui hanyalah berpikiran positif untuk kehidupan kita." Begitu kira-kira tentang wejangan Ibu kepada saya.
Dilahirkan sebagai anak tunggal dalam keluarga bukan sesuatu hal sulit untuk saya jalani. Bukan pula sesuatu hal yang mudah untuk saya hadapi. Saya harus menganggung cerita kesedihan saya seorang diri. Semakin dewasa, saya dihadapkan oleh berbagai polemik kehidupan. Mungkin tidak seberat beban kedua orang tua saya. Tapi saya tidak pernah luput dari mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Saya kadang harus menjadi pendengar yang baik bagi kedua orang tua saya. Terkadang juga, saya harus berpura-pura baik-baik saja dalam keadaan yang membuat saya tidak karauan. Termasuk patah hati.
Tapi dalam prinsip saya, semangat saya adalah kedua orang tua saya. Beliau saja tidak mengeluh di depan saya. Membiayai pendidikan saya, membiayai hidup saya hingga sebesar ini. Lalu, mengapa saya harus mengeluh di depan beliau?
Entah mengapa semua keadaan seperti berubah. Sejak sahabat saya mulai meninggalkan saya dan ia memutuhkan untuk menikah. Dari sanalah saya sadar, bahwa saya sudah menjadi wanita dewasa. Seharusnya, saya berpola pikir seperti wanita dewasa pula. Itu pula yang membuat saya belajar banyak dari Ibu saya. Beliau membimbing saya pelan-pelan terutama perihal mengatasi hati yang tersakiti.
Menurut Saya Rumit Tapi Menurut Ibu Tidak
Saya pernah bertanya dengan Ibu soal berumah tangga. Benarkah sesulit itu? Saya berulang kali mengalami kegagalan dan rasanya sedih kalau harus mengingat masa lalu. Rasanya kalau mau bangkit dari rasa terpuruk itu sangat sulit sekali. Saya khawatir bertemu dengan pria yang salah. Tapi menurut Ibu tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Kamu mau tahu apa resep agar mendapatkan pria yang sesuai denganmu?" tanya Ibu kepada saya
Saya memgangguk tidak tahu.
"Dengan cara memperbaiki dirimu terlebih dahulu. Baru kau akan mendapatkan pria yang sesuai dengan kriteriamu."
Saya tercenung sesaat.
Saya berpikir apakah mimpi saya suatu saat nanti akan terkubur dalam-dalam hanya karena sebuah cinta? Setelah saya menyelesaikan pendidikan ini, saya harus melanjutkan hidup saya. Setelah tugas saya selesai untuk memenuhi kebutuhan orang tua saya seperti sesuai dengan apa yang Ibu dan Bapak saya inginkan. Selanjutnya ialah saya harus melalui proses berumah tangga. Dan apakah mimpi saya akan terhenti sesudah berubah tangga?
"Pria yang mencintaimu, tidak akan pernah menghentikan langkahmu. Ia kan terus mendukungmu agar kau dapat mewujudkan mimpi-mimpimu."
Lalu aku bertanya dalam hati, "Adakah pria seperti itu?"
Cinta dan Cita-Cita
Kini saya mengerti mengapa Ibu mengatakan kepada saya agar mendapatkan pria yang sesuai dengan saya. Itu artinya saya harus bisa memperjuangkan cita-cita saya. Tanpa mengurangi rasa syukur karena Tuhan telah memberikan saya sebuah anugerah perasaan kepada seorang pria saat ini. Tapi saya meyakini bahwa pria yang tulus menyayangi saya, ia juga akan menyayangi kedua orang tua saya. Ia juga akan mendukung cita-cita saya.
Jika ada yang bertanya soal Cinta dan Cita-Cita saya akan menjawab Cinta karena melalui cinta saya atas bakti terhadap orang tua akan mengantarkan saya menuju cita-cita saya dan menuju cinta yang akan menemani saya seumur hidup saya kelak.
Ibu saya pernah berkata, "Jodoh sudah ada yang mengatur, dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kejar terus apa yang ingin menjadi cita-citamu. Maka kamu akan mendapatkan jodoh sesuai dengan dirimu."
Terima kasih Ibu, pemilik surga ditelapak kakinya.
Aku menyayangimu...
Terima kasih Bapak, pria tangguh yang lembut menyayangiku.
Aku mencintamu...
Anak Tunggal dalam Keluarga
Saya tidak bilang bahwa menjadi anak tunggal adalah sebuah hal yang spesial. Saya juga tidak bilang menjadi anak tunggal adalah sebuah nasib buruk. Siapapun orang bisa mengubah nasib buruk menjadi lebih baik. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana takdir hadir ke tiap masing-masing jiwa di dunia ini. Di dalam keluarga saya, hal terpenting dari sebuah perjalana hidup ialah menjadi berguna bagi sesama. Ibu saya sering mengingatkan saya bahwa, "Kita tidak akan tahu bagaimana kehidupan selanjutnya, tapi yang kita ketahui hanyalah berpikiran positif untuk kehidupan kita." Begitu kira-kira tentang wejangan Ibu kepada saya.
Dilahirkan sebagai anak tunggal dalam keluarga bukan sesuatu hal sulit untuk saya jalani. Bukan pula sesuatu hal yang mudah untuk saya hadapi. Saya harus menganggung cerita kesedihan saya seorang diri. Semakin dewasa, saya dihadapkan oleh berbagai polemik kehidupan. Mungkin tidak seberat beban kedua orang tua saya. Tapi saya tidak pernah luput dari mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Saya kadang harus menjadi pendengar yang baik bagi kedua orang tua saya. Terkadang juga, saya harus berpura-pura baik-baik saja dalam keadaan yang membuat saya tidak karauan. Termasuk patah hati.
Tapi dalam prinsip saya, semangat saya adalah kedua orang tua saya. Beliau saja tidak mengeluh di depan saya. Membiayai pendidikan saya, membiayai hidup saya hingga sebesar ini. Lalu, mengapa saya harus mengeluh di depan beliau?
Entah mengapa semua keadaan seperti berubah. Sejak sahabat saya mulai meninggalkan saya dan ia memutuhkan untuk menikah. Dari sanalah saya sadar, bahwa saya sudah menjadi wanita dewasa. Seharusnya, saya berpola pikir seperti wanita dewasa pula. Itu pula yang membuat saya belajar banyak dari Ibu saya. Beliau membimbing saya pelan-pelan terutama perihal mengatasi hati yang tersakiti.
Menurut Saya Rumit Tapi Menurut Ibu Tidak
Saya pernah bertanya dengan Ibu soal berumah tangga. Benarkah sesulit itu? Saya berulang kali mengalami kegagalan dan rasanya sedih kalau harus mengingat masa lalu. Rasanya kalau mau bangkit dari rasa terpuruk itu sangat sulit sekali. Saya khawatir bertemu dengan pria yang salah. Tapi menurut Ibu tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Kamu mau tahu apa resep agar mendapatkan pria yang sesuai denganmu?" tanya Ibu kepada saya
Saya memgangguk tidak tahu.
"Dengan cara memperbaiki dirimu terlebih dahulu. Baru kau akan mendapatkan pria yang sesuai dengan kriteriamu."
Saya tercenung sesaat.
Saya berpikir apakah mimpi saya suatu saat nanti akan terkubur dalam-dalam hanya karena sebuah cinta? Setelah saya menyelesaikan pendidikan ini, saya harus melanjutkan hidup saya. Setelah tugas saya selesai untuk memenuhi kebutuhan orang tua saya seperti sesuai dengan apa yang Ibu dan Bapak saya inginkan. Selanjutnya ialah saya harus melalui proses berumah tangga. Dan apakah mimpi saya akan terhenti sesudah berubah tangga?
"Pria yang mencintaimu, tidak akan pernah menghentikan langkahmu. Ia kan terus mendukungmu agar kau dapat mewujudkan mimpi-mimpimu."
Lalu aku bertanya dalam hati, "Adakah pria seperti itu?"
Cinta dan Cita-Cita
Kini saya mengerti mengapa Ibu mengatakan kepada saya agar mendapatkan pria yang sesuai dengan saya. Itu artinya saya harus bisa memperjuangkan cita-cita saya. Tanpa mengurangi rasa syukur karena Tuhan telah memberikan saya sebuah anugerah perasaan kepada seorang pria saat ini. Tapi saya meyakini bahwa pria yang tulus menyayangi saya, ia juga akan menyayangi kedua orang tua saya. Ia juga akan mendukung cita-cita saya.
Ibu saya pernah berkata, "Jodoh sudah ada yang mengatur, dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kejar terus apa yang ingin menjadi cita-citamu. Maka kamu akan mendapatkan jodoh sesuai dengan dirimu."
Terima kasih Ibu, pemilik surga ditelapak kakinya.
Aku menyayangimu...
Terima kasih Bapak, pria tangguh yang lembut menyayangiku.
Aku mencintamu...
Komentar
Posting Komentar