Hidup Lebih Dari Sekedar Perjalanan


                Saat kau bertanya, kemana arah tujuan hidupmu, maka saat itu pula kau harus mengetahui betul perjalanan apa yang ingin kau lewati menuju tujuan hidupmu. Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Tapi tidak sedikit mereka mempunyai tujuan hidup yang sama. Saya menyadari bahwa hidup ini lebih dari sekedar perjalanan yang panjang. Meski beberapa ahli agama mengatakan bahwa perjalanan hidup manusia di dunia begitu singkat. Tapi saya merasakan, hidup ini terkadang terlalu rumit untuk dilalui.

                Mengawali dari kegiatan yang suka menulis. Sejak usia 10 tahun tepatnya pada 2005, saya sudah menyukai kegiatan menulis. Tulisan pertama saya memuat cerita fiksi dengan adanya tokoh, alur cerita/plot, setting dan dialog. Sangat sederhana pada saat itu karena yang saya rasakan adalah kepuasan bathin. Saya tidak peduli orang lain menyukai atau tidak. Tapi yang jelas, saya menulis karena saya butuh menulis. Saya melakukan kegiatan itu dengan senang hati. Tanpa paksaan dari berbagai pihak.

                Maka, sejak saat itu pula, saya bercita-cita menjadi seorang penulis. Tapi perjalanan menjadi seorang penulis tidak mudah. Halangan saya pertama kali adalah orang tua saya. Beliau tidak menyukai kegiatan saya yang setiap hari menghabiskan sekitar dua sampai tiga buku tulis untuk kemudian saya tulis cerita fiksi di dalamnya. Bahkan puncaknya adalah saat menjelas Ujian Akhir Sekolah (UAS) tingkat Sekolah Dasar (SD). Pada saat itu, saya tidak belajar untuk UAS tapi saya menulis apapun yang mau saya tulis. Saya tidak peduli saat itu tentang apa yang terjadi esok karena saya hanya mengetahui bahwa menulis adalah sahabat sejati saya. Ia selalu ada disaat saya butuh, kapanpun dan dimanapun.

                Bapak saya marah dan merobek-robek buku tulis yang sudah saya tulis berminggu-minggu untuk menjadi sebuah karya tulisan cerita fiksi. Saat itu pikiran saya meracau. Saya marah. Saya benci bapak saya. Bapak saya tidak menghargai jerih payah saya karena saya sudah menulis berminggu-minggu untuk menghasilkan buku fiksi itu. Saya sangat kesal. Tapi rasa amarah itu memudar seiring bejalannya waktu. Saya berhenti menulis sejenak saat saya berusia 12 tahun. Teman-teman SD saya pada bertanya, “Mengapa kau tidak menulis lagi?” dan jawaban saya pada saat itu adalah “Saya mau fokus sekolah dulu.”

                Kau tahu bagaimana rasanya teriris pisau? Itulah yang saya rasakan ketika menjawab itu kepada teman-teman SD saya. Beberapa teman SD saya menyukai hasil karya saya, tapi hingga saat ini saya tidak tahu apakah itu hanya sekedar bentuk menghargai saya saja atau memang ia tulus melakukannya.

                Saya mulai memberanikan diri untuk menulis lagi pada 2007 ketika saya baru menginjak masa kelas 1 SMP. Pertama kalinya saya menulis tentang arti sebuah persahabatan. Persahabatan yang dikhianati. Hanya karena pada saat itu saya menyukai kakak kelas saya, kemudian kakak kelas saya memacari teman saya yang sebenarnya ia itu tahu bahwa saya menyukai kakak kelas saya. Saya baru kali itu merasakan patah hati karena sebuah persahabatan. Teman saya meminta maaf, tapi rasa kecewa saya tidak serta menghilang begitu saja. Senyuman dibibir saya tidak mewakili tulisan yang saya buat untuknya.

                Melalui tulisan saya, teman saya tahu bahwa saya menyukai kakak kelas saya sekaligus pacar baru teman. Entah bagaimana caranya membendung rasa kecewa pada saat itu. Saya pun mulai menulis cerita-cerita pendek. Saya sudah mulai jarang menulis cerita panjang di buku tulis. Saya cenderung menulis sekitar 5 sampai 8 lembar kerta untuk dijadikan cerita pendek. Kadang saya hanya menulis kurang dari 5 lembar untuk sebuah cerpen.

                Kegiatan itu terus berlanjut hingga pada tahun 2010 saya mulai aktif di blog sebagai blogger. Saya menulis apa saja yang ingin saya tulis. Karena kegemaran saya untuk menulis pada 2011 akhir saya menulis sebuah artikel di Kompas MuDa yang terbit pada hari Jumat, 9 September 2011 di koran harian Kompas. Tulisan itu saya garap bersama teman-teman se angkatan saya dan kakak kelas saya sewaktu saya masih duduk di kelas 2 SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) semester ganjil.

                Tidak hanya berhenti sampai disitu, pada tahun 2012 awal saya melalui masa sebagai pelajar yang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah majalah lokal di Jakarta. Selain sebagai wartawan lepas, saya juga mulai aktif menulis jurnalistik disana. Sayangnya, saya minim ilmu jurnalistik pada tahun itu, jadi saya harus bekerja keras untuk bisa menulis berita artikel terutama disebuah majalah yang berbasis politik, ekonomi, kemanusiaan dan peristiwa tersebut. Pada saat itu pula, saya mulai banyak menulis lagi dan semakin memiliki motivator untuk dapat menulis terus. Ditahun berikutnya, saya iseng-iseng membuat naskah novel fiksi dengan cerita yang dilatar belakangi oleh kisah nyata saya.

                Ceritanya sangat simple, intinya adalah saya pernah melalui masa dimana saya jatuh cinta kepada sahabat saya. Kemudian saya dengan percaya dirinya mengirim ke penerbit. Sekitar tiga bulan naskah saya dapat respon dan ternyata disuruh revisi. Saya terbahak-bahak sekaligus kecewa. Saya baru menyadari bahwa cerita saya benar-benar kurang menarik dan saya setuju jika penerbit buku novel fiksi itu menolak karya saya. Saya saja enggan membacanya lama-lama apalagi editornya.

                Lepas dari bangku SMK, saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pada 2013. Sejak mengenal jurnalistik saya mulai jatuh cinta. Saya jatuh cinta dengan dunia wartawan. Dunia yang mengajarkan tentang hidup lebih dari sekedar perjalanan. Saya bisa menulis apapun yang saya mau karena hidup dari pena dan kertas. Di perguruan tinggi, saya mengambil jurusan jurnalistik. Orang tua saya perlahan-lahan mulai menyadari akan kegemaran saya yang selalu menulis. Bapak saya mulai memaklumi kegiatan saya yang setiap hari pasti menulis baik itu di buku, kertas ataupun mengetik tulisan di laptop atau di blog. Seperti kegiatan yang saya lakukan saat ini. Orang tua saya mulai membiarkan saya untuk menulis berlama-lama.

                Bahkan spesialnya lagi, saya punya waktu yang tidak bisa diganggu oleh siapapun tak terkecuali orang tua saya ketika saya sedang menulis. Kini saya mulai sering menulis di blog saya, menulis cerpen, puisi, opini, bahkan naskah novel yang sedang saya lakukan sebagai proyek utama saya. Ya, saya sedang menulis sebuah naskah novel (lagi) dan sudah dipublikasikan melalui self publishing. Beberapa teman pembaca begitu antusias dengan karya saya yang satu itu. Bahkan saya tidak pernah memikirkan sampai sana. Saya hanya melakukan sebuah sikap dengan memperbaiki yang salah dan belajar lebih baik lagi. Naskah novel ini nantinya akan saya jadikan trilogy, artinya ada 3 naskah novel yang berkesinambungan. Judul naskah novelnya adalah Setoples Matahari Jingga.

                Naskah ini saya buat spesial karena bukan hanya pengalaman saya, tapi saya melakukan riset dan observasi dilapangan untuk membuat novel yang mudah diterima di kalangan masyarakat. Sejak terbitnya novel ini dalam bentuk digital di Wattpad. Beberapa rekan saya ingin saya buatkan novel mulai dari biogrofinya hingga melakukan penelitian kecil pada kawasan goa. Ini adalah berkah, dimana saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri bahwa menulis ada cita-cita yang sudah tercapai. Saya sangat mensyukuri ini semua. Berkat doa dan restu kedua orang tua, maka Tuhan memberikan jalan Nya kepada saya.

                Hingga kini, saya pun mulai mengaktifkan diri sebagai penulis lepas meskipun sebelumnya saya pernah menjadi penulis lepas juga di salah satu media online di Depok pada akhir 2015 hingga awal 2016. Inilah yang disebut bahwa hidup bukan sekedar perjalanan. Saya ingin menjadi seseorang yang memberikan manfaat untuk sekeliling saya terutama kedua orang saya. Satu hal yang ingin saya buktikan bahwa saya masih memiliki tujuan hidup dan saya kini tahu apa tujuan hidup saya.

                Tujuan hidup saya tidak rumit seperti perjalanan hidup yang saya lewati saat ini. Saya hanya ingin orang tua saya bahagia dengan hasil pembuktian yang sudah saya tekadkan dengan bulat dan matang. Ya, saya ingin menunjukkan kepada orang tua saya kalau cita-cita saya akan membuahkan hasil dan membanggakan kedua orang tua saya. Perlu disadari, menjadi seorang penulis bukan hanya pandai merangkai diksi dan pintar mengatur paragraf serta alur cerita. Bukan hanya menulis dengan pena di atas kertas. Lebih dari sekedar itu. Menjadi seorang penulis adalah perjalanan hidup yang harus dibuktikan dan menjadi manfaat untuk semua kalangan tak terkecuali rakyat kecil seperti saya dan pemimpin besar di negeri ini.

                Terima kasih Tuhan,
                Engkau memberikan aku jalan yang tidak mudah,
                Tapi Kau selalu tahu apa yang aku butuhkan,
                Bukan sekedar apa yang aku inginkan.


Kalideres, 20/4/2016

Komentar

Celoteh Paling Populer