KSBSI Menuntut Ahok
KSBSI MENUNTUT AHOK
GADING SERPONG – Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) berunjuk rasa pada Jumat (7/11), kemarin. Unjuk rasa yang terjadi di depan gedung Balai Kota, Jakarta Pusat berada dalam keamanan yang cukup ketat. Aksi unjuk rasa tersebut bertujuan untuk menolak politik upah murah dan menuntut dihapuskannya sistem alihdaya (outsourcing). Namun, kedatangan KSBSI tak disambut oleh plt. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang sedang tidak berada di tempat. Massa yang terus berorasi di depan gedung Balai Kota sempat menyatakan rasa kekecewaannya terhadap Ahok atas kebijakan yang akan diputuskan pada Selasa (12/11) mendatang.
Sebelumnya Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Betawi Rempug (FBR) sempat mewarnai ricuhnya unjuk rasa pada Jumat (3/10) di Balai Kota. FPI yang menyatakan akan menggelar demonstrasi setiap hari Jumat pun tidak muncul pada Jumat (7/10), kemarin. Terhitung pada bulan Oktober 2014 sudah 4 kali massa FPI dan FBR mendatangi gedung yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan itu. Beberapa perwakilan massa keduanya menggunakan mimbar untuk berorasi, menyatakan keluhan mereka terhadap kinerja Ahok. Namun, mimbar dan pengeras suara tersebut bukan hanya digunakan untuk menyatakan keluhan dan tuntutan, tetapi juga adanya celaan dan berbagai ancaman.
Di depan gedung yang berdekatan dengan gedung kementerian BUMN itu diisi oleh KSBSI. Seperti unjuk rasa pada umumnya, KSBSI menunjuk beberapa orang untuk berorasi di mimbar yang terletak di atas mobil dan berbicara. “Kita harus pintar teman-teman, nanti kita akan lakukan ‘penjemputan’ bukan ‘sweeping’, penggeseran pagar bukan perubuhan pagar,” ujar salah satu perwakilan KSBSI. Lontaran ancaman oleh KSBSI terjadi di tempat yang berbeda di hari yang sama. Kali ini massa berpindah dari Balai Kota ke depan gedung di mana Rini M. Soemarno selaku menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bekerja. Seseorang yang dinyatakan sebagai presiden KSBSI memberikan penutup yang menggebu-gebu. Ia pun sempat mengancam untuk merobohkan pagar gedung kementerian BUMN. “Coba goyang-goyang dikit pagernya,” perintahnya kepada massa KSBSI.
Sementara itu, Putu Putera selaku Kapolsek Gambir yang menjadi korban luka unjuk rasa ricuh oleh FPI (3/10), mengaku tenang dan siap dalam menghadapi unjuk rasa. Ia menanggapi tentang pengadaan unjuk rasa yang nantinya akan jauh lebih ricuh pada (10/11) mendatang, “Ga masalah, yang penting tidak boleh melanggar hukum. Karena demo itu dilindungi Undang-Undang”. Putu menambahi bahwa hal yang melanggar hukum yaitu dengan tindakan provokasi, mencela, memukul, dan sebagainya. Kemudian ia menjelaskan bahwa polsek bertugas memfasilitasi mediasi dari pihak demonstran, selanjutnya humas masing-masing instansi sebagai tujuan unjuk rasa yang menanganinya.
GADING SERPONG – Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) berunjuk rasa pada Jumat (7/11), kemarin. Unjuk rasa yang terjadi di depan gedung Balai Kota, Jakarta Pusat berada dalam keamanan yang cukup ketat. Aksi unjuk rasa tersebut bertujuan untuk menolak politik upah murah dan menuntut dihapuskannya sistem alihdaya (outsourcing). Namun, kedatangan KSBSI tak disambut oleh plt. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang sedang tidak berada di tempat. Massa yang terus berorasi di depan gedung Balai Kota sempat menyatakan rasa kekecewaannya terhadap Ahok atas kebijakan yang akan diputuskan pada Selasa (12/11) mendatang.
Sebelumnya Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Betawi Rempug (FBR) sempat mewarnai ricuhnya unjuk rasa pada Jumat (3/10) di Balai Kota. FPI yang menyatakan akan menggelar demonstrasi setiap hari Jumat pun tidak muncul pada Jumat (7/10), kemarin. Terhitung pada bulan Oktober 2014 sudah 4 kali massa FPI dan FBR mendatangi gedung yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan itu. Beberapa perwakilan massa keduanya menggunakan mimbar untuk berorasi, menyatakan keluhan mereka terhadap kinerja Ahok. Namun, mimbar dan pengeras suara tersebut bukan hanya digunakan untuk menyatakan keluhan dan tuntutan, tetapi juga adanya celaan dan berbagai ancaman.
Di depan gedung yang berdekatan dengan gedung kementerian BUMN itu diisi oleh KSBSI. Seperti unjuk rasa pada umumnya, KSBSI menunjuk beberapa orang untuk berorasi di mimbar yang terletak di atas mobil dan berbicara. “Kita harus pintar teman-teman, nanti kita akan lakukan ‘penjemputan’ bukan ‘sweeping’, penggeseran pagar bukan perubuhan pagar,” ujar salah satu perwakilan KSBSI. Lontaran ancaman oleh KSBSI terjadi di tempat yang berbeda di hari yang sama. Kali ini massa berpindah dari Balai Kota ke depan gedung di mana Rini M. Soemarno selaku menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bekerja. Seseorang yang dinyatakan sebagai presiden KSBSI memberikan penutup yang menggebu-gebu. Ia pun sempat mengancam untuk merobohkan pagar gedung kementerian BUMN. “Coba goyang-goyang dikit pagernya,” perintahnya kepada massa KSBSI.
Sementara itu, Putu Putera selaku Kapolsek Gambir yang menjadi korban luka unjuk rasa ricuh oleh FPI (3/10), mengaku tenang dan siap dalam menghadapi unjuk rasa. Ia menanggapi tentang pengadaan unjuk rasa yang nantinya akan jauh lebih ricuh pada (10/11) mendatang, “Ga masalah, yang penting tidak boleh melanggar hukum. Karena demo itu dilindungi Undang-Undang”. Putu menambahi bahwa hal yang melanggar hukum yaitu dengan tindakan provokasi, mencela, memukul, dan sebagainya. Kemudian ia menjelaskan bahwa polsek bertugas memfasilitasi mediasi dari pihak demonstran, selanjutnya humas masing-masing instansi sebagai tujuan unjuk rasa yang menanganinya.
(Fh&Rk)
Tugas Penulisan Berita (sem. 3)
Komentar
Posting Komentar