Dalam Satu Jiwa Rudy Gunawan
oleh FITRA Sukadi
"Terus menulis karena pekerjaan seorang penulis adalah menulis. Penulis akan berhenti menulis ketika tak menulis lagi." jelas Rudy Gunawan mengenai komitmennya terhadap sastra.
Ket: Landung Simatupang (kiri) dan Rudy Gunawan (kanan)
Nama :Fransiscus Xaverius Rudy Gunawan (F.X Rudy Gunawan)
Tempat, Tanggal Lahir : Cirebon, 20 September 1965
Prestasi dan Karya :
Karya Non-Fiksi:
Dunia sastra sudah tidak asing mendengar nama F.X Rudy Gunawan. Sejak karyanya dalam bentuk esai dan kumpulan cerpennya populer pada tahun 90an di kalangan budayawan dan sastrawan, kini Rudy Gunawan masih mempertahankan eksistensinya pada sastra. Dari sebuah taman bacaan yang menyewakan buku-buku, pria kelahiran Cirebon, 20 September 1965 mulai mengenal dunia sastea saat ia yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Karya-karya sastra klasik Indonesia tumbuh bersama Rudy saat ia melanjutkan pendidikan ketingkat Sekolah Menengah Pertama. Dalam koleksi buku-buku milik Ayahnya, sastrawan legendaris, Pramudya Ananta Toer ikut terseret dalam perkembangan sastra di dalam jiwanya. Sederet pengarang atau tokoh yang ikut menjadi inspirasi dalam setiap karya Rudy diantaranya adalah Borls Pasternak, Albert Carmus. Ernest Hemingway, Iwan Simatupang, Chairil Anwar, dan tentunya Pramudya Ananta Toer. Masih ada banyak tokoh-tokoh yang menginspirasi Rudy dalam berkarya, menurutnya, "sosok-sosok tersebut yang telah berhasil menulis karya luar biasa dengan cara menggeluti secara intens dan total dalam kehidupan mereka." sambungnya. Melalui sastra, ia memiliki ketertarikan dalam menumbuhkan kepekaan pada berbagai persoalan di dalam kehidupan nyata disekililingnya, "sastra juga membuat imajinasi saya ikut berkembang." jelasnya.
Pada masa kuliah, Rudy Gunawan mengenal Jurnalistik bersamaan dengan keseriusannya dalam menekuni dunia sastra. Pria yang mendapat gelar sarjana Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta mulai mengalami ketertarikan pada Jurnalistik, menurutnya, "profesi wartawan adalah sesuatu yang saya anggap luar biasa". Rudy mengaku kagum terhadap profesi Jurnalistik karena baginya wartawan juga bisa memberikan kontribusi besar bagi terciptanya sebuah masyarakat yang demokratis. Penggagas dan pendiri penerbitan Gagasmedia ini pernah menjadi Pemimpin Redaksi di Voice of Human Rights News Center pada tahun 2006 hingga 2010 dan Raharja Waluyo Jati disebut-sebut sebagai orang yang mengajaknya bergabung dengan redaksi tersebut.
Selain menjadi penyair dan budayawan, Rudy bersama dengan Yayasan Mitra Netra menggagas dan mendirikan Majalah Diffa. Majalah yang secara khusus dibuat bagi penyandang disabilitas terutama tunanetra, " karena kekaguman saya pada sejumlah sahabat penyandang disabilitas yang saya temui. Itulah awal yang menggerakan saya untuk mendirikan majalah Diffa". Memulai dengan rasa kagum, Rudy Gunawan yang kini sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Diffa sejak 2010 melalui perjalanan yang penuh tantangan hingga saat ini, "saya menyadari betapa beratnya persoalan yang dihadapi kawan-kawan disabilitas di Indonesia." tuturnya. Rudy yang menyadari betapa luar biasanya teman-teman disabilitas membuat persahabatan ia dengan mereka merupakan hal yang paling berkesan dalam perjalanan hidupnya selama ini.
Sebagai aktivis, ia memang aktif pada beberapa kegiatan. Namun, dalam hal karya sastra ia tak pernah khawatir dengan sikap kritisnya yang mengkritisi atas ketidakadilan, kesewang-wenangan, korupsi, penindasan dan penyalahgunaan kekuasaan, "saya tidak pernah khawatir selama saya mengatakan dan menulis dengan kebenaran." tegasnya. Seperti manusia lainnya, Rudy membutuhkan dukungan dari keluarga yang dicintainya, maka selalu ada sebuah bentuk dukungan berupa doa dan pengertian dari keluarga dalam hal pekerjaan, kegiatan dan profesinya saat ini. Rudy Gunawan, hidup berada dalam dua dunia yang tak terpisahkan antara Sastra dan Jurnalistik ikut menanggapi mengenai sastra dan pers masa kini, "Sastra dan Pers saat ini, tengah mengalami suatu transisi yang menyebabkan terjadinya banyak kemerosotan akibat kemajuan teknologi". Menurutnya, kemajuan teknologi telah mengganggu nilai-nilai lama yang menjadi fondasi dari ketatanan masyarakat sebelumnya. Mendapatkan pengalaman selama menjadi Pemred Majalah Diffa merupakan pengalaman yang menempa sisi kemanusiaan sejati dalam diri Rudy Gunawan. Hal tersebut membuat ia agar terus menjadi manusia yang lebih baik dan terus lebih baik lagi.
F.X Rudy Gunawan, menempuh hidup sebagai wartawan dan sastrawan berdasarkan cita-cita dan keinginannya sejak lama. Sebagai manusia, jadilah manusia yang selalu berusaha menjadi lebih baik sepanjang hidup. Berada dalam Jurnalistik dan Sastra adalah kesamaan dan tak terpisahkan karena itu berada satu jiwa seorang Rudy Gunawan, maka ia tidak perlu harus memilih satu diantara keduanya. (FH)
Fitra Hasnu 13140110243
"Terus menulis karena pekerjaan seorang penulis adalah menulis. Penulis akan berhenti menulis ketika tak menulis lagi." jelas Rudy Gunawan mengenai komitmennya terhadap sastra.
Ket: Landung Simatupang (kiri) dan Rudy Gunawan (kanan)
Nama :Fransiscus Xaverius Rudy Gunawan (F.X Rudy Gunawan)
Tempat, Tanggal Lahir : Cirebon, 20 September 1965
Prestasi dan Karya :
- Merah Itu Cinta
- Jakarta City Tour- (Tragedi, Ironi, dan Teror)
- Animal Rationale
- Mbah Maridjan: Sang Presiden Gunung Merapi
- Aku Perempuan: Jalan Berliku Seorang Dorce
- Takhta Suci Vatikan
- Mengebor Kemunafikan - INUL, Ses dan Kekuasaan
- 170,8 FM ? Radio Negeri Biru
- Tusuk Jelangkung
- Realita, Cinta dan Rock n Roll
- Meeka Bilang Di Sini Tidak Ada Tuhan; Suara Korban Tragedi Priok
- Dolly Hitam Putih Prostitusi
- Kumpulan cerpen (bukan) pilihan Kompas "Zarima" (Galang Press, Yogyakarta)
- Novel Mata Yang Malas (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta)
- Novel 170, 8 FM: Radio Negeri Biru (Gagas Media, Jakarta). Landung Simatupang (kiri) dan Rudy Gunawan (kanan)
- Novel K-O-M-A (Spasi & VHRbook
- Bangsal 13
- Aku Ingin Menciummu Sekali Saja
- Indra Sjarif : Menolak Menyerah (2014)
Karya Non-Fiksi:
- Filsafat Seks (Bentang, Yogyakarta)
- Kumpulan esai Pelacur & Politikus ([[Graffiti Press, Jakarta)
- Mendobrak Tabu: Seks, Kebudayaan, dan Kebejatan Manusia (Galang Press, Yogyakarta)
- Budiman Sudjatmiko: Menolak Tunduk (Grasindo, Jakarta)
- Wild Reality; Refleksi Atas Kelamin (Indonesia Tera, Yogyakarta)
- Premanisme Politik (ISAI, Jakarta) ingkang dipunserat sesarengan kaliyan Nezar Patria saha Togi Simanjuntak.
Dunia sastra sudah tidak asing mendengar nama F.X Rudy Gunawan. Sejak karyanya dalam bentuk esai dan kumpulan cerpennya populer pada tahun 90an di kalangan budayawan dan sastrawan, kini Rudy Gunawan masih mempertahankan eksistensinya pada sastra. Dari sebuah taman bacaan yang menyewakan buku-buku, pria kelahiran Cirebon, 20 September 1965 mulai mengenal dunia sastea saat ia yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Karya-karya sastra klasik Indonesia tumbuh bersama Rudy saat ia melanjutkan pendidikan ketingkat Sekolah Menengah Pertama. Dalam koleksi buku-buku milik Ayahnya, sastrawan legendaris, Pramudya Ananta Toer ikut terseret dalam perkembangan sastra di dalam jiwanya. Sederet pengarang atau tokoh yang ikut menjadi inspirasi dalam setiap karya Rudy diantaranya adalah Borls Pasternak, Albert Carmus. Ernest Hemingway, Iwan Simatupang, Chairil Anwar, dan tentunya Pramudya Ananta Toer. Masih ada banyak tokoh-tokoh yang menginspirasi Rudy dalam berkarya, menurutnya, "sosok-sosok tersebut yang telah berhasil menulis karya luar biasa dengan cara menggeluti secara intens dan total dalam kehidupan mereka." sambungnya. Melalui sastra, ia memiliki ketertarikan dalam menumbuhkan kepekaan pada berbagai persoalan di dalam kehidupan nyata disekililingnya, "sastra juga membuat imajinasi saya ikut berkembang." jelasnya.
Pada masa kuliah, Rudy Gunawan mengenal Jurnalistik bersamaan dengan keseriusannya dalam menekuni dunia sastra. Pria yang mendapat gelar sarjana Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta mulai mengalami ketertarikan pada Jurnalistik, menurutnya, "profesi wartawan adalah sesuatu yang saya anggap luar biasa". Rudy mengaku kagum terhadap profesi Jurnalistik karena baginya wartawan juga bisa memberikan kontribusi besar bagi terciptanya sebuah masyarakat yang demokratis. Penggagas dan pendiri penerbitan Gagasmedia ini pernah menjadi Pemimpin Redaksi di Voice of Human Rights News Center pada tahun 2006 hingga 2010 dan Raharja Waluyo Jati disebut-sebut sebagai orang yang mengajaknya bergabung dengan redaksi tersebut.
Selain menjadi penyair dan budayawan, Rudy bersama dengan Yayasan Mitra Netra menggagas dan mendirikan Majalah Diffa. Majalah yang secara khusus dibuat bagi penyandang disabilitas terutama tunanetra, " karena kekaguman saya pada sejumlah sahabat penyandang disabilitas yang saya temui. Itulah awal yang menggerakan saya untuk mendirikan majalah Diffa". Memulai dengan rasa kagum, Rudy Gunawan yang kini sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Diffa sejak 2010 melalui perjalanan yang penuh tantangan hingga saat ini, "saya menyadari betapa beratnya persoalan yang dihadapi kawan-kawan disabilitas di Indonesia." tuturnya. Rudy yang menyadari betapa luar biasanya teman-teman disabilitas membuat persahabatan ia dengan mereka merupakan hal yang paling berkesan dalam perjalanan hidupnya selama ini.
Sebagai aktivis, ia memang aktif pada beberapa kegiatan. Namun, dalam hal karya sastra ia tak pernah khawatir dengan sikap kritisnya yang mengkritisi atas ketidakadilan, kesewang-wenangan, korupsi, penindasan dan penyalahgunaan kekuasaan, "saya tidak pernah khawatir selama saya mengatakan dan menulis dengan kebenaran." tegasnya. Seperti manusia lainnya, Rudy membutuhkan dukungan dari keluarga yang dicintainya, maka selalu ada sebuah bentuk dukungan berupa doa dan pengertian dari keluarga dalam hal pekerjaan, kegiatan dan profesinya saat ini. Rudy Gunawan, hidup berada dalam dua dunia yang tak terpisahkan antara Sastra dan Jurnalistik ikut menanggapi mengenai sastra dan pers masa kini, "Sastra dan Pers saat ini, tengah mengalami suatu transisi yang menyebabkan terjadinya banyak kemerosotan akibat kemajuan teknologi". Menurutnya, kemajuan teknologi telah mengganggu nilai-nilai lama yang menjadi fondasi dari ketatanan masyarakat sebelumnya. Mendapatkan pengalaman selama menjadi Pemred Majalah Diffa merupakan pengalaman yang menempa sisi kemanusiaan sejati dalam diri Rudy Gunawan. Hal tersebut membuat ia agar terus menjadi manusia yang lebih baik dan terus lebih baik lagi.
F.X Rudy Gunawan, menempuh hidup sebagai wartawan dan sastrawan berdasarkan cita-cita dan keinginannya sejak lama. Sebagai manusia, jadilah manusia yang selalu berusaha menjadi lebih baik sepanjang hidup. Berada dalam Jurnalistik dan Sastra adalah kesamaan dan tak terpisahkan karena itu berada satu jiwa seorang Rudy Gunawan, maka ia tidak perlu harus memilih satu diantara keduanya. (FH)
Fitra Hasnu 13140110243
Komentar
Posting Komentar