REVOLUSI MENTAL DESA TERDEPAN
REVOLUSI MENTAL DESA TERDEPAN
FITRA
HASNU
Seorang pria berkulit cokelat tua sedang memarkir dan segera
turun dari kendaraan roda dua miliknya. Ia bergerak menghampiri saya sambil
tersenyum dan menjabat tangan saya. Sambutan hangat itu mengantarkan saya
menuju meja kerjanya. Sambil mempersilahkan saya duduk, ia mengambil sebuah
buku ditumpukan berkas-berkas di atas meja. Sebuah buku cukup besar dan tebal
berukuran kertas polio kemudian ia letakan di atas meja berbentuk persegi
panjang. Disana tertera kolom-kolom identitas yang perlu dilengkapi sebagai
data arsip. Dibalik pakaian dinas berwarna hijau tua itu, Lili Suheli, nama
yang tertera disudut kanan baju dinasnya. Ia menyambut kedatangan saya saat
tiba di Kantor Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten (8/6/2015).
BERAWAL DARI
OMBAK DAN PAPAN SELANCAR.
Desa Sawarna, namanya kian berhembus kencang sejak seorang
turis asal Australia pada tahun 2009 mengunggah video sedang berselancar (surfing) di Pantai Ciantir, Desa
Sawarna, Banten. Ombak dari Samudera Hindia itu terseret ke dalam video yang ia
unggah di laman akun youtube pribadinya. Ketinggian ombak yang dapat mencapai 7
meter itu, membawa turis lainnya untuk mengunjungi ‘surga’nya para peselancar.
Sekretaris Desa Sawarna, Lili Suheli (40), menceritakan kembali tentang Desa
Sawarna yang disadari sebagai desa yang memiliki potensi wisata, “Video yang
telah diunggah ke media Nasional dan International tersebut, lambat laun membuat
wisatawan mulai berdatangan ke Sawarna dan puncaknya tahun duaribu sepuluh,
ribuan orang mulai berkunjung ke Sawarna”.
Hal ini membuat beberapa wisatawan baik lokal maupun
mancanegara menganggap Sawarna dan mulai dikenal sebagai The Hidden Paradise. Dalam artikel kompas.com pada rubrik Travel, Kepala
Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispora) Kabupaten
Lebak, Oman Nurohman mengatakan,
"Kami optimistis obyek wisata Pantai Sawarna yang berada
di selatan Banten itu bisa mendunia," saat dihubungi oleh kompas.com
di Lebak, Jumat (12/6/2015). Kini, pengunjung yang datang ke Sawarna mulai berdatangan dari luar
kota yang didominasi dari Jakarta, Bogor, Depok, dan Sumatera. Ada pula, dari
turis mancanegara yaitu dari Australia, Jepang, Amerika, Kanada, Korea, dan Perancis.
Meski belum sepopuler tempat wisata di Bali atau Lombok, namun Sawarna hadir
dengan cerita lain dibalik pesisir pantai selatan.
Melalui panggilan jiwa untuk memajukan parawisata
daerah dan nasional yang berada di garis terdepan Negara Indonesia. Maka,
beberapa orang mulai menyadari atas potensi wisata di desanya dan membentuk suatu
kelompok. Sekelompok ini menyebut dirinya sebagai Kelompok Sadar Wisata
(POKDARWIS). Bersamaan dengan kemajuan desa yang menjadi desa binaan Dinas
Pariwisata dan Budaya Provinsi Banten pada tahun 2000. Hal tersebut juga ikut
di dukung oleh Pemerintah Provinsi Banten dengan meresmikan pada tahun 2004 sebagai
desa wisata. Kelompok ini pula berada langsung di bawah binaan kementrian
parawisata.
AKSES MENUJU
DESA SAWARNA
Untuk mencapai desa Sawarna, terdapat tiga rute
perjalanan yang bisa menjadi pilihan dan referensi untuk Anda. Tiga rute
perjalanan tersebut diantaranya, melalui Serang, Rangkas Bitung dan Pelabuhan
Ratu. Hampir ketiga jarak tempuh ini memakan waktu lebih lama yaitu lebih dari
6 jam perjalanan jika Anda menggunakan kendaraan umum. Namun, jika Anda
menggunakan kendaraan pribadi, waktu dapat Anda sesuaikan dengan kehendak Anda.
Rute
Serang, Banten.
Anda bisa berangkat dari terminal Kampung Rambutan,
Kalideres dan Tanjung Priok. Jika lokasi Anda disekitar Slipi Jaya, Anda dapat menunggu
di seberang Rumah Sakit Harapan Kita. Akan ada sebuah bus menuju Merak dan
dapat turun di terminal Pakupatan Serang.
Dari Terminal Pakupatan di Serang, Anda dapat melanjutkan
perjalanan dengan menggunakan ELF atau bus Damri menuju Bayah. Sebaiknya,
gunakan bus Damri untuk mencapai Bayah karena ELF umumnya hanya sampai
Malingping saja. Jika ada yang ke Bayah pun tak terlalu banyak.
ELF dari Serang ke Malingping, Bayah dan Binuangeun
pada jam terakhir yaitu pukul 19.00 dan baru ada lagi sekitar pukul 02.00.
Sedangkan bus Damri ke Bayah pada jam operasional, hanya ada pada pukul 07.00,
13.00 dan 16.00
Rute
Rangkas Bitung, Banten
Kereta Rangkas Jaya dan kereta Langsam (Langsung
Sampai) siap mengantarkan Anda menuju Rangkas Bitung. Dalam hal waktu, Anda
bisa menyesuaikan jadwal kereta Rangkas Jaya atau Langsam dengan kehendak Anda.
Transportasi umum dengan harga terjangkau
ini hadir tiap satu hingga dua jam sekali.
Dari stasiun Rangkas Bitung, Anda dapat menggunakan
angkutan umum menuju terminal Mandala. Harganya pun bisa mencapai 5000
perorang. Dari Terminal Mandala, Rangkas Bitung sebuah mini bus bernama Rudi
siap mengantarkan Anda menuju Bayah. Pukul 14.00 jam terkahir bus Rudi beroperasi.
Sepanjang perjalanan menuju Bayah, perjalanan Anda
akan didominasi dengan jalur yang rusak setelah Anda melewati Pasar Gunung
Kencana. Namun, pemandangan akan menjadi menarik saat Anda bus melewati pesisir
pantai pasir putih. Letaknya di sebelah kanan Anda saat menuju Bayah. Dengan
harga bus 45.000 perorang, Anda baru akan tiba di Bayah pukul 18.00.
Rute
Pelabuhan Ratu, Banten
Untuk mencapai Pelabuhan Ratu, banyak akses
transportasi umum menuju Bogor. Mulai dari kereta (commuter line) atau bus untuk mencapai Terminal Baranangsiang,
Bogor. Tiba di Terminal Baranangsiang,
dapat menggunakan MGI AC ke Pelabuhan Ratu dengan tarif 45.000 perorang.
Waktu tempuh perjalanan sekitar empat jam hingga tiba di Pelabuhan Ratu.
Setelah dari Pelabuhan Ratu Anda dapat melanjutkan perjalanan
dengan menggunakan ELF. Perjalanan dari terminal Pelabuhan Ratu ke Bayah
memakan waktu tiga jam. Perihal harga, dapat berubah sewaktu-waktu.
KISAH DIBALIK
SAWARNA
Setelah tiba di Bayah, perjalanan masih akan terus
dilanjutkan menuju Desa Sawarna. Jika Anda beruntung, Anda akan ada ELF yang
mencapai desa Sawarna. Tetapi, sangat jarang untuk menemui ELF masuk ke desa. Maka,
alternatif lain Anda dapat menggunakan jasa ojek dengan harga 40.000 perorang.
Akses perjalanan menuju desa Sawarna pertama kali di
sambut oleh pintu gerbang desa Sawarna. Pemandangan pabrik semen Merah Putih
akan Anda temui pertama kali. Jalanan yang licin akibat truk-truk muatan besar
melintas dengan membawa semen. Tak jauh dari pabrik semen, Anda akan melalui
jembatan besar yang dibawahnya terdapat aktivitas penambangan pasir.
Tahun lalu, seperti yang dikutip oleh Radar Banten
bahwa adanya aktivitas penambangan liar yang meresahkan masyarakat Desa
Sawarna. Kepala Polsek Bayah, Kosasih, menuturkan pihaknya sudah memberi
peringatan kepada penambang pasir liar agar menghentikan aktivitasnya. Lanjutnya,
“Penambangan diprotes warga karena dianggap merusak lingkungan serta tidak
memiliki izin,” saat tim Radar Banten menemui Kosasih di lokasi penambang pasir
liar di pantai Sawarna (11/12/2014).
Hal tersebut
menyebabkan pesisir Pantai Sawarna mudah terkena abrasi pantai. Pernyataan itu
ditegaskan kembali oleh Juru Bicara Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan
(Ampel), Jalu Harto agar meminta pihak berwenang segera mengambil tindakan
terhadap kegiatan ilegal itu sebelum kerusakan pantai makin meluas.
“Soalnya, saat
ini saja pantai sudah banyak yang terkikis atau abrasi. Ini lantaran, tidak
adanya tindakan tegas dari pihak berwenang untuk menghentikan kegiatan peti
tersebut,” kata Jalu kepada Radar Banten (13/2/2015).
Setelah melewati
penambangan pasir, tertera tugu perbatasan Pulo Manuk yang akan Anda lewati. Pulo
Manuk hadir dengan serangkaian kisah sejak zaman penjajahan Jepang, tepatnya
bermula dari dibangunnya rel kereta Seketi - Bayah. Pada tanggal 07 Agustus
2004 Koran Kompas memuat artikel dengan judul “Menyusuri Jejak Romusha di Pulau
Manuk” dan ditulis oleh MH Samsul Hadi.
Sejarah romusha di Pulau Manuk, Kecamatan Bayah, Kabupaten
Lebak, Banten, itu pernah terancam hilang dari kenangan. Pulau Manuk adalah
salah satu dari beberapa lokasi di Bayah yang menjadi saksi bisu aksi
penindasan Jepang terhadap para romusha. Kawasan yang berjarak sekitar lima
kilometer dari kota Kecamatan Bayah atau pertigaan Terminal Bayah itu bisa
dicapai dari berbagai jurusan. Terbangun sebuah monument sebagai tonggak memperingati
romusha yang berlokasi di sebelah SLTP Negeri 1 Bayah dan letaknya tak jauh
dari Kantor Camat Bayah.
Pada zaman penjajahan Jepang, tulis Adhy Asmara dalam
Pesona Wisata Zamrud Katulistiwa Banten, kapal-kapal perang Jepang banyak yang
melakukan pendaratan di seputar muara Cimadur, Pantai Bayah. Saat itu, Bayah
dikenal sebagai penghasil utama batu bara, yang digunakan untuk bahan bakar
kereta api, kapal laut, dan pabrik. Selain terkenal dengan sejarah romusha,
Bayah juga tercatat dalam buku sejarah sebagai tempat persembunyian tokoh Tan
Malaka. Di Banten Selatan itu, ia pernah menyamar sebagai mandor pertambangan
batu bara dengan nama samaran Ilyas Husein. Tan Malaka sempat mengorganisasi
para romusha, membentuk kelompok drama, dan menyelesaikan karya magnum
opus-nya, Madilog.
Dalam artikel yang dimuat Kompas, seorang mantan
romusha, Pareno (87) menceritakan kembali kisah penambangan batu bara, antara
lain dengan pembuatan lubang-lubang tambang batu bara di Gunung Madur serta
pembuatan rel kereta api Bayah-Seketi untuk mengangkut batu bara, diperkirakan
memakan korban kurang lebih 93.000 romusha. Pareno mengungkapkan, sebagian
besar romusha itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti Purworejo, Kutoarjo,
Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan lain-lain.
Seorang tokoh masyarakat, Ade Sudrajat saat saya
temui, Ia mengiyakan terhadap kegetiran dan kisah para romusha di tanah Bayah.
“Dulu Bayah ini umumnya pendatang. Mulai dari zaman
Belanda hingga Jepang. Adanya desa Sawarna juga dari pendatang. Tapi pertama
kali singgah di Bayah terutama Pulo Manuk itu adalah romusha.”
Keberadaan desa Sawarna hadir dari berbagai cerita.
Namun, Ade menegaskan, keberadaan Desa Sawarna pertama kali ialah dengan adanya
makam keluarga di dekat Goa Lalay. Makam tersebut bukanlah dari romusha melainkan
pendatang dari tanah Sunda. Maka, Sawarna sendiri memiliki kisah yang beragam.
Jika kembali ke belakang, sebelum Jepang menjajah
Indonesia. Jean Louis Van Gogh adalah orang Belanda pertama yang membuka perkebunan
kelapa di Desa Sawarna pada sekitar tahun 1907 M. Jejak itu ditemui dengan terdapat batu nisan Jean
Louis Van Gogh, yang merupakan keponakan Vincent Van Gogh seorang pelukis
terkenal dari Eropa. Jean Louis Van Gogh dulunya adalah pengusaha perkebunan
kelapa yang terdapat di sepanjang Pantai Sarwana. Namun kini, perkebunan kelapa
ini sudah dikelola oleh PTPN. Jean Louis Van Gogh wafat karena sakit, dan ingin
dimakamkan di bumi Indonesia. Makam ini ternyata baru ditemukan pada tahun 2000
silam.
Hingga kini, Sawarna merupakan sentra perkebunan
kelapa untuk diolah menjadi kopra dan minyak kelapa dan hingga kini terkenal
sebagai sentra penghasil kelapa di Kabupaten Lebak. Kelapa dari desa ini pun
banyak dikirim ke Jakarta, Bandung, Bogor, dan kota-kota lainnya.
DESA WISATA
Tim dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
pada Agustus tahun lalu mendatangi Desa Sawarna saat akan menilai lomba Desa
Wisata Tingkat Nasional di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak,
Banten. Sejak Pemerintah Provinsi Banten meresmikan Sawarna sebagai desa wisata
pada tahun 2004. Dikutip dari Radar Banten, September tahun lalu Lili mengaku optimistis
bahwa Sawarna bisa masuk lima besar dalam lomba Desa Wisata Tingkat Nasional,
yang puncak acaranya akan digelar di Bali, November tahun lalu dan menjadi desa wisata terbaik di Nusantara.
Sesuai dengan namanya sebagai desa wisata, ada 26
objek wisata yang tedapat di desa Sawarna mulai dari Pantai, Tebing, Goa hingga
makam Belanda. Semua tersaji lengkap dalam satu desa yaitu SAWARNA.
Namun, jika Anda belum dapat menjangkau semua objek
wisata di Desa Sawarna. Ada beberapa alternatif lain agar perjalanan wisata
Anda tetap menyenangkan dan bermanfaat, antara lain:
Pantai
Legon Pari, ingin melihat matahari terbit? Pantai ini sangat tepat untuk Anda
pemburu sunrise. Memiliki hamparan
pasir putih yang digunakan sebagai pelabuhan nelayan tradisional. Tedapat berbagai
formasi dari batu karang yang unik dan indah. Banyak ikan-ikan kecil dan kerang
terjebak di cekungan karang yang digenangi air laut yang jernih. Bila
diperhatikan susunan batu karang tersusun dengan indah seperti dipahat dan
ditata secara disengaja. Mungkin inilah yang dinamakan Legon asal kata dari
Laguna. Karang-karang kadang menonjol seperti berbaris.
Tanjung
Layar, setelah menikmati pantai Legon Pari, bergegaslah menuju ada dua batu
karang yang menjulang tinggi yang menjorok ke laut. Batu karang ini menjadi
salah satu ikon utama tujuan wisatawan yang berkunjung ke sana. Selain unik, bentuknya
yang serupa dengan layar yang mengembang, maka penduduk setempat pun menamakan
Tanjung Layar.
(ket. Foto: penulis di Tanjung Layar, dok.
Pribadi)
Pantai
Ciantir, ini sebabnya turis asing enggan beranjak dari Sawarna. Pantai yang
berombak besar di sisi Timur itu menjadi tempat favorit para peselancar dunia
seperti dari Australia, Jepang, Amerika dan Benua Eropa. Sedangkan, bagi Anda
yang ingin menikmati ombak yang kecil, menujulah ke sisi Barat. Salah satu
tempat favorit wisatawan lokal untuk bersenang-senang sambil menikmati segarnya
udara pantai.
Bukit
Cariang, dari ketinggian bukit yang dilintasi jalan utama menuju Desa Sawarna
ini dapat melihat hamparan pantai Ciantir sekaligus Tanjung Layar dari
kejauhan. Sangat cocok bagi Anda yang hanya ingin menikmati pantai dari
kejauhan.
Goa
Lalay, selama Anda di Sawarna, Goa Lalay akan memanjakan pandangan Anda. Lalay
berasal dari bahasa Sunda yang artinya Kelalawar. Goa Lalay juga sebagai titik pusat
asal-mula kehidupan Desa Sawarna. Selain memiliki keunikan yaitu panjangnya
ratusan meter dan dibawahnya mengalir sungai kecil. Goa Lalay juga memiliki
ketinggian air kira-kira antara sebatas lutut hingga pinggang. Jika Anda
tertarik, Anda dapat menyusuri lorong gua yang gelap penuh Stalagtit ini harus
rela hari berbasah-basah.
Pantai
Pulo Manuk, penduduk setempat menamakan pulau Manuk dalam bahasa Sunda yang
artinya Burung. Hal ini diduga karena pada lepas pantai ini ada bongkahan
karang yang sering menjadi persinggahan burung. Sisi Baratnya pun ada muara
sungai kecil dan menjadi tambatan nelayan setempat.
Pantai
Goa langir, terletak di ujung pantai pasir putih. Berada di sebelah kiri
tanjakan jalan menuju Pulo Manuk. Pantainya lebih teduh ketika matahari mulai condong ke arah barat. Di bukit berbatu
itu terdapat beberapa goa.
REVOLUSI MENTAL DESA SAWARNA
Desa Sawarna yang pernah disebut-sebut sebagai desa
tertinggal kini berevolusi dengan memajukan potensi wisata di Kabupaten Lebak. Menteri
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar melakukan
kunjungan perdananya pada November tahun lalu dengan blusukan ke Kabupaten Lebak,
Provinsi Banten yang dianggap masih menjadi daerah tertinggal.
Dikutip dari pernyataan Marwan saat ditemui oleh tim
liputan6.com di Kabupaten Lebak tahun lalu mengatakan optimis bahwa Lebak akan
meninggalkan predikat sebagai daerah tertinggal, "Lebak ini daerah
tertinggal, tapi tahun 2015 sudah bisa mengentas dari daerah tertinggal.
Kabupaten Lebak memang harus ada perhatian dari pemerintah pusat, Provinsi
Banten dan pemerintah Lebak," kata Marwan di Lebak, Banten, Selasa (4/11/2014).
Marwan menilai, bahwa butuh keberanian bagi kepala
daerah untuk mengatakan bahwa daerahnya tertinggal. Hal ini menjadi penting
karena menurutnya, dengan mengetahui kondisi yang sebenarnya maka pemerintah
pusat langsung bisa bertindak.
Keberanian Marwan pula yang telah dilakukan oleh Desa
Sawarna demi meninggalkan sebutan sebagai desa tertinggal. Meskipun berada di
pesisir pantai selatan, namun mayoritas warga desa Sawarna bermata pencaharian
sebagai petani sawah dan ladang sayur mayur. Kini sejak ditetapkan sebagai desa
wisata, hampir seluruh warga desa membuka jasa penginapan dan kian membantu
perekonomian desa.
Lili Suheli, mengharapkan upaya dalam pembangunan desa
Sawarna dapat diperbaiki lagi agar wisatawan dengan mudah mengakses tujuan
wisatanya. Meskipun sudah ada upaya dari Pemprov Banten, tetapi dalam hal APBD,
Lili mengaku masih minim. Sehingga, diperlukan kerja keras lagi agar desa
Sawarna dapat menjadi desa wisata yang dituju oleh wisatawan baik lokal maupun
mancanegara.
Ombak desa Sawarna berhasil memikat para wisatawan
setiap tahunnya. Namun apakah setiap tahunnya desa Sawarna dapat memikat hati pemerintah
setempat? Fasilitas yang memadai, begitu kata Lili sambil menggeleng-geleng
kepalanya. Sebagai Sekretaris Desa Sawara yang telah menghabiskan 40 tahun
hidupnya untuk Desa Sawarna, ia masih menunggu pemerintah agar Desa Terdepan
ini tidak ditinggalkan oleh penikmat alam Nusantara.
FITRA HASNU - 13140110243
uas penulisan featurea
Komentar
Posting Komentar