Bukan Puisi Teologis
Lagi membicarakan tentang berkelana.
Terdiam sejenak memandang jantung kota yang tengah
terperangah.
Meresapi desiran angin membelai tengkuk dan rambut.
Seakan tengah mencari damai dalam ironis.
Lika-liku dalam perjalanan sebuah hati
Kian menghantarkan pada jelaga jiwa yg hampir saja merampas
kebahagiaan.
Lugunya mereka yang masih saja diam tak bergerak.
Ataukah terlalu naïf sehingga sulit bergerak meski
sejengkal.
Rentetan waktu kian membuatku larut dalam hati yang
bergejolak.
Syukur tiada akhir atas nikmat-Nya.
Kini dan marilah berdialog tentang religius.
Sayangnya tak semua insan ingin berdialog kepada serta
dengan Pemiliknya.
Segelintir orang yang tak luput dari kemunafikan serta
pembodohan merjalela.
Tak mampu membedakan. Ataukah kita tak ingin membedakan.
Kaum zionis berdampingan dengan gerombolan yang berusaha
menghancurkan iman seseorang.
Selain itu pula menguatkannya.
Hanya tinggal memilih. Atau menelan mentah-mentah karena tak
sanggup memilih.
Seperti padang ilalang yang luas.
Kita hanya akan menentukan tanpa bantuan siapapun.
Memilih dan bergerak berdasarkan nurani.
Tapi sekali lagi, sahabat. Bukan nurani yang mereka maksudkan.
Bukan nurani tentang rasa otoriter dan membalas jasa.
Bukan itu, sahabat.
Ini nurani dengan fundamental logis.
Berbicara teologis dan nurani menjadi penyekat diantara
logis.
Mengerti mauku?
Tak perlu, karena kau hanya perlu mendiami suatu rumah
beratap
Dengan hiasan yang kau hiasi sendiri.
Dengan warna dan corak yg kau lakukan sendiri.
Sehingga kau pun menyebutnya, iman dalam hidup.
21 Agustus 2014
Komentar
Posting Komentar