Cerpen "Renungan"
Entah
kemana arah goresan pena ini akan berlabuh. Aku pun tak tahu mengapa
jemari ini menari indah di antara lingkungan tak gemar bersahaja.
“Kau sehat?” wajahnya menatapku dengan seksama.
Aku sedikit memberi anggukan kepala.
“Benarkah?” ia menghampiriku dan menggenggamku dengan lembut.
“Haruskah kau mengkhawatirkan aku?”
Ia menggeleng kepala, “Aku mempercayaimu, takdir.”
Kali ini aku yang takut jika harus menatap matanya lebih lama lagi.
“Adakah tanda-tanda akan berakhir?” ia mendekatiku dengan hati-hati. Aku berusaha untuk mencuri pandangannya yang berkelana tanpa henti.
“Mengapa kau gusar?” pertanyaanku membuatnya berhenti sejenak.
“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”
“Siapa lagi yang mampu membuat kau kurang konsentrasi seperti ini?” suaraku mengisyaratkan kekhawatiran, ia berusaha untuk segera menepisnya.
“Dia duduk dikala senja telah terbenam. Menungguku dengan bijak. Meskipun, celotehnya selalu menyadarkanku bahwa kami takkan pernah bersama.”
Aku menatapnya dengan tajam, “Kau mempercayaiku?”
“Aku mempercayaimu, takdir. Sangat mempercayaimu.”
“Lantas, apa yang membuatmu menjadi seperti ini.”
Ia pun merundukan kepala dengan pelan, “Aku takut jatuh hati padanya.”
Aku menghela nafas panjang,”Lagi-lagi, itu yang kau pikirkan.”
Tak banyak suara yang keluar dari bibirnya. Ia masih saja merunduk dan sesekali menghela nafas dengan berat.
“Kau takut akan kehilangannya?”
“Tidak.” Jawabnya sigap. Aku terperanjat. Tak kusangka ia begitu mantap saat mengatakannya.
“Lalu apa yang kau khawatirkan?”
“Apakah aku dapat merenungnya?”
Aku tak mengerti apa yang ia katakan.
“Kau ingin merenung siapa?” tanyaku yang berusaha menarik simpatinya.
“Merenung kau.”
Sontak aku terkejut mendengarnya.
“Merenungku? Mengapa??”
“Takdir..” ia menatapku dengan seksama, “Aku mempercayaimu karena Tuhan menciptakanmu. Tapi aku takut kalau aku harus tahu terlebih dahulu sebelum Tuhan yang menciptakanmu membuatku berpikir ribuan kali bahwa ini adalah takdirku.”
Awan mendung tak bersahabat, tapi aku yakin senja yang telah tenggelam di samudera akan membawaku kembali kepadanya. Membawa kembali kepada pangkuan atas renunganku selama ini. Waktu memang tidak setepat orang disiplin, tetapi waktu takkan mungkin bisa dikembalikan oleh manusia paling disiplin sekalipun. Maka, izinkanlah aku merenung sejenak. Renunganku akan membawaku kepadamu. Apakah kau pantas dan tepat untuk aku renungkan atau tidak aku renungkan sama sekali. Aku kembali merenungmu dalam tenang, katanya demikian kepadaku.
(Cerpen Renungan by Fitra)
Jogjakarta, 27 Juli 2014
“Kau sehat?” wajahnya menatapku dengan seksama.
Aku sedikit memberi anggukan kepala.
“Benarkah?” ia menghampiriku dan menggenggamku dengan lembut.
“Haruskah kau mengkhawatirkan aku?”
Ia menggeleng kepala, “Aku mempercayaimu, takdir.”
Kali ini aku yang takut jika harus menatap matanya lebih lama lagi.
“Adakah tanda-tanda akan berakhir?” ia mendekatiku dengan hati-hati. Aku berusaha untuk mencuri pandangannya yang berkelana tanpa henti.
“Mengapa kau gusar?” pertanyaanku membuatnya berhenti sejenak.
“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”
“Siapa lagi yang mampu membuat kau kurang konsentrasi seperti ini?” suaraku mengisyaratkan kekhawatiran, ia berusaha untuk segera menepisnya.
“Dia duduk dikala senja telah terbenam. Menungguku dengan bijak. Meskipun, celotehnya selalu menyadarkanku bahwa kami takkan pernah bersama.”
Aku menatapnya dengan tajam, “Kau mempercayaiku?”
“Aku mempercayaimu, takdir. Sangat mempercayaimu.”
“Lantas, apa yang membuatmu menjadi seperti ini.”
Ia pun merundukan kepala dengan pelan, “Aku takut jatuh hati padanya.”
Aku menghela nafas panjang,”Lagi-lagi, itu yang kau pikirkan.”
Tak banyak suara yang keluar dari bibirnya. Ia masih saja merunduk dan sesekali menghela nafas dengan berat.
“Kau takut akan kehilangannya?”
“Tidak.” Jawabnya sigap. Aku terperanjat. Tak kusangka ia begitu mantap saat mengatakannya.
“Lalu apa yang kau khawatirkan?”
“Apakah aku dapat merenungnya?”
Aku tak mengerti apa yang ia katakan.
“Kau ingin merenung siapa?” tanyaku yang berusaha menarik simpatinya.
“Merenung kau.”
Sontak aku terkejut mendengarnya.
“Merenungku? Mengapa??”
“Takdir..” ia menatapku dengan seksama, “Aku mempercayaimu karena Tuhan menciptakanmu. Tapi aku takut kalau aku harus tahu terlebih dahulu sebelum Tuhan yang menciptakanmu membuatku berpikir ribuan kali bahwa ini adalah takdirku.”
Awan mendung tak bersahabat, tapi aku yakin senja yang telah tenggelam di samudera akan membawaku kembali kepadanya. Membawa kembali kepada pangkuan atas renunganku selama ini. Waktu memang tidak setepat orang disiplin, tetapi waktu takkan mungkin bisa dikembalikan oleh manusia paling disiplin sekalipun. Maka, izinkanlah aku merenung sejenak. Renunganku akan membawaku kepadamu. Apakah kau pantas dan tepat untuk aku renungkan atau tidak aku renungkan sama sekali. Aku kembali merenungmu dalam tenang, katanya demikian kepadaku.
(Cerpen Renungan by Fitra)
Jogjakarta, 27 Juli 2014


Komentar
Posting Komentar