Bukan Salah Kostum Tapi Salah Perasaan


Hal konyol yang pernah gue lakukan bersama orang lain saat gue berpergian selain malu bertanya. Atau gue buta peta karena nggak ajak Dora The Explore yang lagi sibuk shooting stripping . Bahkan nyasar karena nggak tau jalan. Yaitu ketika gue pergi bersama teman yang merangkap sebagai kakak kelas gue namanya Vita. Ke acara Ultah Radio Prambors ke 41 tahun di Gandaria City. Dengan mendadaknya gue menerima tawaran Vita untuk ke acara tersebut. Gue juga nggak akan tau seperti apa acaranya.Gue dan doi pun sudah merencanakan untuk pergi bersama. Kenapa harus direncanakan? Iya, sebenarnya sih kita hanya pergi biasa aja. Mengahadiri acara ulang tahunnya Radio Prambors. Tapi yang buat nggak biasa adalah besoknya  Vita akan mengalami Ujian Nasional Produktif. Dan itu hanya dilakukan satu kali dalam satu kesempatan. Katanya doi, “ujian nasional produktif itu paling susah. Bukan susah. Tapi menjebak” plin plan memang saat mendengar dia berbicara demikian. Tapi doi melakukan itu dengan sangat antusiasnya doi curhat ke gue. Doi melanjutkan, “saking menjebaknya soal itu kita jadi harus cermat dan teliti dalam mengerjakan soal” hey, anak SD jago salto juga ngerti kalo ngerjain soal harus cermat dan teliti. Begitulah kurang lebih doi bercerita ke gue dengan menggunakan nada yang tidak senada dengan kebahagiaan gue pada hari itu.Gue merasa bahagia banget saat itu karena setelah bertahun-tahun gue mengidola tiga pria ganteng yang punya suara merdu kemudian band favorite gue serta mantan pacar gue (maaf! pengaharapan ABG labil). Akhirnya gue bisa bertemu mereka di Ultah Radio Prambors. Gue sangat berterima kasih banget sama  Vita karena udah ngajak gue ke ultah Radio Prambors. Gue pun bisa melihat tiga pria ganteng (RAN), terus band favorite gue (Nidji) dan mantan pacar gue (Gamaliel). Untuk soal mantan pacar terkesan agak menjijikan. Bukan, agak. Tapi sangat menjijikan. Karena pasti Gamal pun akan enek dan mau muntah setelah tau kalau doi di aku-akui oleh gue sebagai mantan pacarnya. Atau lebih parahnya. Semua fans Gamal terutama yang cowok-cowok akan benci bahkan mengutuk gue yang lemah dan tidak berdaya ini. Hm, sebentar. Apakah penggemar Gamal cowok-cowok semua?? !!!
***
Seperti yang gue ceritakan tadi. Sebelum menghadiri acara tersebut Vita-lah yang duluan mengajak gue untuk menghadirinya. Dan memang sebenarnya gue benar-benar tidak update dalam soal event-event seperti itu. Tapi yang membuat gue tertarik saat Vita kasih tau ke gue adalah temanya ‘anti kekerasan’  terutama untuk anak mudanya. Semua kawula muda (sapaan pendengar dari Radio Prambors) juga diajak untuk flash mop. Diiringi lagu mbak Rihanna yang judulnya We Found Love. Ya, gue sendiri sih nggak tau kayak gimana acaranya nanti. Bagi gue acara ini menarik banget untuk dihadiri. Dan gue berharap gue tidak bertemu dengan orang-orang yang gue kenal sebelumnya.Dengan rasa PeDe yang teramat PeDe. Gue pun mau belagu-belaguan di facebook. Dan niatnya mau bergaya abis-abisan. 
“Gue  yakin pasti orang-orang yang kenal gue difacebook nggak ada yang keacara tersebut. HAHAHAHAHA *KetawaLicik* (dalam hati)”.
 Malam sabtu alias malam sebelum gue ke acara tersebut. Gue pun update status di account facebook gue. Sambil ngupil gue update melalui handphone colek screen gue, 
“Siapa yang besok mau ke Gandaria City?? Angkat keteknya!! Gerak!!!”.
 Kemudian gue keluar dari account facebook gue untuk beberapa saat. Setelah gue selesai ngupil dan menge-check kembali  ada lumayan lebih dari lima pengguna facebook. Meng-Like status yang baru gue share. Padahal friend facebook gue sudah seribuan lebih. Terlalu miris memang. Dari sekian banyak teman facebook hanya ada sedikit yang mengetahui keberadaan gue. Mungkin keberadaan gue hanya dapat dilihat dari ilmu kebathinan. Kurang lebih gue demit. Kemudian ada beberapa orang yang komentar. Gue rasa komentarnya juga kurang terlalu menonjol. Tapi kemudian salah satu teman lama gue, Shifa. Yang sekarang sudah beda sekolah dengan gue. Doi pun ikut komentar. Dan ternyata doi juga dateng ke acara tersebut bersama teman-teman Cinematografi-nya. Seketika dan saat itu juga gue merasa kecewa, 
“Ah ternyata ada aja orang yang gue kenal dateng ke acara tersebut.” dengan raut wajah yang bad mood abis.  Gue melanjutkan, “Nanti ada siapa lagi ya kira-kira kalo gue kesana???!!! Jangan-jangan nanti ada guru-guru SD, SMP bahkan SMK gue lagi. Atau mungkin ada tetangga-tetangga gue lagi. Huft, nggak banget sih kalau ketemu yang itu-itu aja.” Gerutu gue dalam hati.
***
Malamnya gue mencoba untuk tidur sejenak. Setelah sekian jam gue online di depan computer. Dan baru bisa tidur jam setengah tiga pagi. Seorang jombloers seperti gue. Tidak merasakan yang namanya malam minggu. Tetapi adanya hanya sabtu malam.Sabtu malam gue ada masalah sama Radit. Dia minta gue jujur. Gue bingung. Gue harus jujur yang seperti apa? Sedangkan gue tidak melakukan kebohongan apa-apa pada saat itu.
Raditya: Udah kamu jujur aja sama aku fit. Kamu cerita apa aja sama Era?
Gue: jujur yang bagaimana sih? Gue nggak ngerti.
Raditya: dia marah-marah sama aku. Dia juga bawa-bawa nama kamu.
Gue: kalo dia marah-marah sama lo berarti dia emang ada masalah sama lo bukan sama gue.
Raditya: kamu baca SMS sebelum ini ga sih?? Dia bawa-bawa nama kamu.Gue: emang bawa-bawa gimana?
Gue: lo mau gue jujur sama lo?
Raditya: terserah
Gue: kok gitu sih??Cukup panjang percakapan gue dan Radit melalui SMS. Yang gue lakukan saat Radit meminta gue untuk jujur adalah gue sedang masak nasi. Itu pun sedang disuruh nyokap gue. Apa Radit butuh kejujuran ‘Bagaimana cara memasak nasi yang benar? Agar nasinya tidak berubah jadi bubur’ atau ‘Seberapa banyak air yang dibutuhkan? Agar airnya tidak kekurangan dan terasa kurang matang’. Tetapi jelas bukan itu yang doi butuhkan. Doi nggak butuh cara memasak nasi yang benar atau seberapa banyak air yang dibutuhkan. Yang dia butuhkan saat itu adalah penjelasan dari gue. Penjelasan kenapa Era marah sama Radit. Dan kenapa Era bawa-bawa nama gue. Untung Era tidak bawa-bawa badan gue. Karena badan gue sangat berat jika dibawa Era.
***
Sabtu malam itu berubah menjadi sabtu ‘malam konyol’. Gue paling tidak interest mengurusi masalah yang tidak jelas karena pihak yang memaksa gue untuk gabung dalam masalahnya tidak memberi penjelasan sama gue. Dan gue juga bukan tipe orang yang lari dari masalah kok. Sampai keujung dunia pun kalau masalah akan gue selesaikan. Dengan cara baik-baik. Dan dengan pembicaraan yang baik-baik pula. Jadi kalau sekiranya caranya konyol dan pembicaraannya kurang enak didengar. Mungkin gue lebih kalem. Dan tidak menanggapi kalau itu masalah. Gue malah menganggap itu hanya sharing seseorang yang lagi kalang kabut mau curhat sama siapa. Dan seseorang itu malah melibatkan gue.Itu pula yang menjadikan alasan kenapa gue tidur jam setengah tiga pagi. Bukan karena kepikiran tentang ‘masalah’ itu. Tetapi karena berhubung itu ‘malam konyol’ gue jadi konyol curhat-curhatan sama teman lama gue lewat facebook yang tiba-tiba kayak hilang ditelan bumi. Namanya, Rizky. Doi yang berbadan ‘subur’ ini hilang entah kemana setelah lulus SD. Dari SD juga kita sering main bareng. Kita main lari-larian, main bekel, dan main tak umpet. Ini memang sangat unyu. Meskipun Rizky cowok tulen dan sekarang pun doi sudah punya pacar. Tetap aja nggak merubah kenangan itu. Bahkan saat masuk SMP. Kita pun masih diberi kesempatan oleh Allah SWT. Untuk pergi tetap bersama. Tapi sayangnya hanya nama doi yang tertera. Dan setau gue saat itu doi justru nggak sekolah di Jakarta.Berlama-lama didepan komputer akhirnya membuat gue lelah dan bosan. Gue mulai kibarkan bendera putih. Tanda perdamaian dengan ‘malam konyol’. Bersiap untuk membuat pulau kapuk dan membuat mimpi yang indah. Walaupun hubungan gue dengan Radit belum membaik. Sampai facebook gue diblokir sama Radit. Tapi gue tetap berharap kalaupun ini masalah. Semoga cepat selesai. Dan tidak merusak kebahagian gue esok hari. Fine and thanks.
***
Jam Sembilan pagi lebih gue terbangun lelapnya tidur gue. Gue mulai membuka komputer dan melanjutkan online. Ini kegiatan yang sering gue lakukan saat weekend. Malam sebelumnya. Radit berusaha menghubungi gue atau meminta gue menghubungi dia jam tujuh pagi nanti. Karena gue bangun agak siang. Akhirnya gue baru SMS Radit jam Sembilan lebih hampir jam sepuluh. SMS dengan kata “bocah”. Pingin pancing dia aja. Kira-kira dia udah bangun belum ya? Beberapa menit kemudian akhirnya dia membalas dengan balasan, “bocah?”Sebenarnya gue nggak ada maksud gue ngatain dia benar-benar ‘bocah’. Kalau dia ‘bocah’ gue juga dong. Soalnya kita sama-sama tidak saling menghubungi jam tujuh pagi. Sepele ya. Dan tiba-tiba Radit minta maaf sama gue. Gue heran banget waktu itu. Setelah facebook gue diblokir abis-abisan. Sampai gue merasa kehilangan dia. Dia pergi dengan seenak hatinya. Dan lagi-lagi gue seperti ‘kantong plastik’. Radit datang. Kemudian menyimpannya di ‘kantong plastik’. Dan Radit pergi. Mengambil apa yang telah disimpannya di ‘kantong plastik’. Tanpa jejak. Dan kembali lagi. Memberikan ‘sesuatu’. Itu manis. Dan lucu.Setengah tidak percaya sama tindakannya. Yang sudah bersikukuh agar gue jujur. Sedangkan gue tidak tau. Gue harus jujur seperti apa. Dan gue merasakan saat Radit memaksa gue untuk jujur. Itu karena Era marah sama Radit. Dan Radit takut kehilangan Era. Karena Radit sayang Era. Itu kesimpulan gue saat tahu perasaan Radit yang tadinya emosional. Dengan semalam saja Radit jadi mencair. Bagaikan es batu di Kutub Utara yang mencair karena Global Warming yang mendadak.Terjadi salah paham antara Radit dan Era. Radit mengira gue ngomong yang macem-macem sama Era. Sedangkan Era kesal karena Radit tidak memberi tahu gue kalau sebenarnya Era dan Radit sudah lama kenal. Hal seperti ini menjadi sangat besar. Terasa unmood seketika. Buat gue jengah. Padahal kami hanya salah paham. Tapi kok rasanya bête banget ya???
***
Account facebook gue masih gue buka di komputer. Gue mencoba melihat wall to wall Radit dan Era. Ada banyaknya puisi-puisi cinta di dinding Era dari Radit. Sampai akhirnya gue melihat tautan dari youtube. Lagunya J-Rocks yang judulnya ‘Ya, Aku’. Semakin memperkuat dugaan gue. Kalau Radit memang sayang Era. He’s loving her.Perasaan gue jadi gundah gitu. Aneh.Hening.Tatapan gue kosong.Dan gue mencoba cari cahaya dalam hati gue.Apakah gue sudah terjebak?Radit pun menchat gue di facebook. Gue membalasnya. Dan berusaha mencairkan suasana yang sebelumnya menegang karena salah paham.
***
Lama ber-chatting dengan Radit di facebook. Akhirnya gue coba menghubungi Vita. Memastikan sekali lagi untuk pergi ke Gandaria City. Dan menghadiri ultah Radio Prambors. Gue dan Vita pun sepakat untuk pergi setelah Dzuhur.Tiga puluh menit sebelum berangkat gue sudah siap dan rapi.Kemeja berwarna biru laut dan jeans belel. Berserta tas punggung berwarna coklat. Membuat gue nyaman saat memakainya.Tidak terlalu banyak yang gue bawa didalam tas. Hanya sebotol air minum, beberapa buku klipingan, dompet, dan handuk. Gue yakin akan menggunakan handuk kecil berwarna yang warnanya sesuai dengan kemeja gue saat itu. Gue tipe seseorang yang menyukai warna biru. Bagi gue biru itu tenang. Dan gue berharap selama perjalanan dari rumah ke Gandaria City dalam keadaan tenang dan selamat sampai tujuan.Gue mulai pamit sama kedua orang tua gue, mencium tangan bokap dan nyokap gue, “bapak… ibu… doakan anakmu agar aku selalu dalam lindungan-Nya”.
 Kemudian nyokap gue menatap dengan mata nanar, “jaga jasad mu baik-baik nak…”. 
Bokap gue pun dengan wajahnya yang gagah, dagunya yang kokoh, kumisnya yang ningrat, rambutnya potongan cepak lalu angkat bicara, “ingat!” serunya. Bokap melanjutkan, “Selalu pakai lotion anti nyamuk.” Dengan gaya seperti mau menghadapi peperangan di medan perang.Ini sama sekali terasa seperti mau berjuang di medan perang. 
Tapi ingin camping pramuka sewaktu SD dan kedua orang tua kita tidak diizinkan oleh Pembina untuk ikut camping bareng. Sungguh menyedihkan.Gue berangkat. Menuju halte busway Kalideres. Sampai dihalte gue ngeliat Vita yang lagi asyik main handphone. Tubuhnya yang bohay ditutupi oleh T-Shirt item. Jeans dan sepatu unyu berwarna aqua. Gue dan Vita menuju kasir. Membeli tiket. Masuk kedalam. Kemudian kita menuju sejenak di antrean sambil mencairkan suasana.
“temen-temen lo kemana?” Tanya gue, datar. Sebelumnya Vita memang mengajak beberapa temannya untuk pergi bersama kami.
“tau tuh temen gue. Pada tumbang.” Gerutu Vita.
“yaudah, yang penting kan gue sekarang bisa.”
“iya ya.. hehehe”
“emang temen lo kenapa pada nggak bisa ikut?”
“ada yang pergi mendadak, terus ada yang nggak bisa nggak tau karena apa dan ada yang bilang lagi nggak punya doku” Vita emang beruntung pergi sama gue. Setidaknya dia bisa ketemu sama idolanya yang membawakan acara The Dandees. Tapi malu karena jalan sama gorilla berbadan Angelina Jolie ini.
***
Kita (baca: gue dan Vita) mulai memasuki bus (baca: Trans Jakarta). Sepanjang perjalanan kita banyak cerita banyak demi menghilangkan rasa jenuh. Dari yang namanya nanti Vita lulus SMK mau lanjut dimana, kemudian, rep-repannya sampai soal gue yang sempat mengalami kegalauan akibat sesuatu (baca: Perasaan gue sendiri).Gue mulai angkat bicara soal kelulusan Vita nanti,
“lo mau lanjut kemana Vit setelah lulus nanti?” Tanya gue, basa-basi.
“nggak tau nih neng, kalau emang dapet beasiswa buat kuliah ya mungkin gue kuliah dulu. Tapi kalau belum bisa ya mungkin kerja dulu.”
“emang mau kuliah dimana?”“ga tau nih. Kayaknya di Serang gitu, neng.”
“lho? Kok jauh???” gue heran, ngapain sih kuliah pakai jauh-jauh ke Serang segala? Kayak di Jakarta nggak ada kampus aja.
“iya, soalnya deket rumah.” Ya, mungkin maksudnya dia rumah dia yang ada di Serang kali ya.
“oooooooo……..” balas gue, singkat.
“kalau lo neng?”Hening.
Gue bingung mau jawab apa.
“gatau. Maunya sih negeri” kata gue sambil menyapu semua pandangan yang ada didepan gue.
 “tapi kayaknya susah deh, otak gue kan nggak pinter-pinter amat.” Lanjut gue, lesu.
“iya neng, gue juga tadinya mau negeri. Tapi nggak tau juga. kalo gue sih mau cari yang ada Broadcast-nya.” Jelas Vita lebih memilih Broadcast. Vita kan basic nya Broadcast. Nggak mungkin Vita pilih akuntansi. Nggak nyambung banget Broadcast ke akuntansi. Dari yang namanya menyiarkan kolor. 
Tiba-tiba ngitungin jumlah kolor untuk di promosikan. Vita melanjutkan,“dan bisa dapet beasiswa.”Lagi-lagi beasiswa. Gue selalu berharap bisa dapet beasiswa. Vita juga pingin bisa dapet beasiswa. Tapi apa bisa dapet beasiswa dengan se ala kadarnya otak ini?Selesai membicaranya masa depan kita masing-masing. Yang masih sedikit suram. Sesuram wajah temen gue yang satu ini. Kita beralih ke bagian Vita rep-repan. Gue yang masih penasaran sama cerita dari Vita soal rep-repannya waktu malam jumat.Malam jumat itu Vita tidur jam 23.15 menit. Dia sengaja tidak mendengar Mystery Night. Salah satu program acara di Radio MS Tri FM yang sudah menjadi rutinitas dia maupun gue. Saat malam jumat telah tiba. Dan kami biasanya saling info melalui SMS. Kalau ada sesuatu yang janggal. Seperti misalkan saat ada suara kuntilanak cekikikan. Gue malah tiba-tiba pingin boker.Mari kita lanjutkan sodara dan sodari.Masih di hari yang sama. Dan masih dimalam yang sama. Jadi begini sodara-sodara dan sodari-sodari-sodari sekalian. Saya akan menceritakan kronologi yang dialami Vita kala itu. Begini ceritanya, malam itu Vita hendak tidur karena esoknya ia harus sekolah dan sedang berlangsungnya ujian sekolah. Tapi sebelum ia tertidur. Dari pagi hingga malam ia merasakan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia gelisah. Gundah. Dan gulana. Tetapi ia tetap berusaha memejamkan matanya walaupun ia sedang konflik dengan perasaan yang mengganggu akal sehatnya. Sebentar, saya mau berdecak. Lanjut, sodara sodari sekalian. Vita pun memutuskan keputusan bahwa ia tetap harus tertidur. Awal ia tertidur semua baik-baik saja. Namun lama kelamaan ia mendengar ada yang berbisik sangat kencang dikedua telinganya. Suara itu memekik. Suara bisik yang mengganggu pikirannya. Vita mencoba baca surat-surat juz amma. Pokoknya se hapalnya Vita ajalah. Namun, suara itu semakin menjadi-jadi. Vita semakin gelisah. Ketika hendak menyadarkan dirinya yang sudah terlanjur memejamkan mata. Itu sama sekali tidak bisa dilakukannya. Mata Vita tidak bisa melek. Mungkin biar melek dikasih cabe di matanya? Sekujur tubuhnya kaku. Mulut ia sulit untuk di buka. Mungkin jika menggunakan linggis bisa? Sampai akhirnya dia memanggil kata ‘Ayah’ dan semua kembali normal. Vita terbangun dan ia banyak ber-Istigfar. Saat Vita tersadar, saat itu pula suara cekikikan dari kuntilanak terdengar dari depan jendela kamarnya. Sungguh cerita yang mengerikan.Besoknya gue mengalami yang Vita alami semalam. Jangan-jangan. Penunggu rumah Vita transmigrasi ke rumah gue. Wow! Masih setengah nggak percaya. Tapi percayain aja deh. Udah kejadian juga. Dan memang persis dengan yang Vita alami. Tetapi tidak se over Vita kok. AhahahaHAHAHAHAHAHAHAHA. Hening.Begini sodara dan sodari sekalian. Setelah saya melakukan wawancara dengan Vita yang berbadan subur itu. Arti dari kata Rep-repan (kata Vita bukan kata gue. Ingat! Kata Vita. Dan Vita juga taunya dari Jae, teman gue yang eksotik itu) ialah semacam setan yang menahan tubuh kita.Ada yang mau berpikir sejenak dengan arti kata-kata Rep-repan tersebut? Sepertinya tidak perlu ya.
***
Selesai dari cerita Vita tentang Rep-repan. Yang menurut gue bingung untuk dijelaskan. Dan karena kita juga belum Tanya-tanya ke Thabib Muhammad Dwi. Jadi gue dan Vita lebih baik memendam perasaan kita masing-masing.Gue jadi pingin cerita sama Vita soal kejadian yang gue alami dengan Radit. Kegalauan gue menyeruak dan menyebar di seluruh pikiran gue saat itu. Perlahan gue coba menceritakan problem yang sedang gue alami kemarin. Vita pun mendengarkan dengan seksama. Kami berdua berbagi. Kami berdua saling merasakan. Perasaan satu sama lain. Perasaan gue yang kenapa gue takut kehilangan dia. Takut Radit pergi. Dan nggak mau Radit jauh.----------------------------------------------------------------------------------------------------------------Halte Grogol Bus TransJakarta.Well, gue dan Vita segera transit di Halte Grogol. Akses menuju Gandaria City ialah dengan cara menaiki bus way jurusan Lebak Bulus. Jam menunjukan satu siang. Masih ada dua jam lagi sebelum tiket flash mop acara Ultah Prambors Radio dibuka. Vita menawarkan gue permen rasa leci dan enak banget. Sayangnya bentuknya kecil banget. Jadi gue sedikit kurang puas makan permennya. Apa lagi Vita hanya bawa tiga buah permen seperti itu. Sebenarnya Vita bawa permen banyak. Ada rasa jeruk, apel, stroberi dan leci. Dan yang paling enak hanya leci. Tapi kenapa hanya bawa tiga?? Kenapa?Bus Trans Jakarta melaju dengan pelan dan tentram. Aman dan damai. Serta sentosa. Cukup.Gue mulai memperhatikan keadaan sekeliling gue. Dari mbak-mbak yang didekat pintu. Ya, kasarnya kenek lah. Tapi kan mbak-mbak ini ga bilang,“yooo lebak bulus… lebak bulus…” sambil melambai-lambaikan salah satuh tangannya.Lalu jika ada yang ingin naik, ia mengetuk-ketuk kaca bus dengan uang koin, dan dia pasti bilang, “yooo naik yooo naik…”Sekali lagi dia berkata, “yoooo lebakk bulus… lebak bulus……..”. Tetapi mbak-mbak ini terlihat lebih tegas dan ramah serta berbudi baik. Ehem. Cieeee…… (?)
***
Dan gue mulai terpaku dengan satu titik. Ada segerombolan anak muda pakai baju berwarna kuning-kuning. Awalnya gue mengabaikan semua itu. Gue kurang menyadari kalau mereka pakai warna kuning semua. 
Tapi entah kenapa itu buat gue kepikiran. Saking penasarannya gue Tanya ke Vita.
“vit, lo ngerasa ada yang aneh nggak?” bisik gue, pelan-pelan.
“enggak. Emang kenapa?” balas Vita, heran.
“iya Vit. Gini ya, itu ada segerombolan orang pakai baju warna kuning semua. Mereka mau ke acara flash mob juga kali.”
“enggak…”
“enggak apa?”
“enggak tau.”
Hening.
“vit…” bisik gue dengan penuh kegelisahan,
“apa?”
“kayaknya mereka mau ke ultah Prambors juga deh.” Gue melihat sekeliling dengan teliti. 
“lo yakin kita nggak salah kostum?” lanjut gue, penasaran.
“ya ampun neng. Enggak. Orang gue denger di Radio waktu acara The Dandees cuma cukup dateng aja. Terus follow twitternya Radio Prambors. Dan ikut flash mob deh. Nggak ada tuh suruh pakai baju begini atau begitu apalagi pakai baju warna kuning.” Jelas, Vita.
“lo yakin?”
“yakin.”
“bener?”
“iya neng…”
Tapi kenapa gue masih penasaran? Kalau bener salah kostum gimana??? Kalau misalkan bener semua yang menghadiri ultah Prambors pakai baju warna kuning gimana?? Gue pasti malu banget. MAU DITAROH DIMANA MUKA GUE??? DI PANTAT LANDAK?????!!!
***
Bus way yang kami naiki semakin dekat dengan Gandaria City. Segerombolan kuning itu turun di Halte Kebayoran Lama. Vita juga mengajak gue turun di Halte Kebayoran Lama. Tapi gue malah memilih turun di Halte Kebayoran Lama 2. Vita pun menuruti ajakan sesat gue. Akhirnya karena salah halte. Kita berdua turun di Halte Kebayoran Lama 2. Untuk balik lagi ke Halte Kebayoran Lama.
“tuh kan bener! Kita tuh seharusnya turun di Halte Kebayoran Lama.”sewot Vita.
“ya, maaf.” Sahut gue, menyesal.
“lu sih ngeyel sama gue. Tante gue tuh pernah bilang ke gue.”
“iya, maaf…”Setelah turun di Halte Kebayoran Lama. Kita berdua naik angkot berwarna biru kearah Gandaria City. Kalo ditempat gue angkotnya mirip M13. Angkot yang biasa gue pakai sewaktu masih SMP.Beberapa menit kemudian. Kita sampai di Gandaria City. Satu kata yang bisa gue utarakan. adalah, “Subhanallah”. 
Mata gue terbelalak.
 Nggak percaya. 
Dan speechless.
“Vit, gede banget mall nya.” Bisik gue, norak.
“iya neng. Gede banget ya.” Vita membalasnya sambil melihat sekeliling dengan seksama.
“Vit, abis ini kita kemana nih?” Tanya gue, bingung.
“ahahaha…” Vita tertawa kecil. “lo baru pertama kali kesini ya?” sial. Vita ngejek gue.
“i-ya.” Balas gue, bersuara kecil.
“lewat sini neng.” Vita mengajak gue ke jalan yang benar.
“emang lo udah pernah kesini vit?” Tanya gue pelan
“belum juga. baru sekarang.” Balasnya. HEEEEEEEEEEEEEEEE??????????

Lama berjalan akhirnya gue menemukan sesuatu. Sesuatu yang gue pertanyakan.GUE MENEMUKAN KEJANGGALAN.GUE MENEMUKAN PERTANYAAN BESAR.DAN GUE MENEMUKAN SEGEROMBOLAN KUNING.Gue menatap Vita dengan tajam. 
Vita menatap gue dengan heran.
“vit.” Bisik gue, lagi.
“apa?”
“kok ada orang yang di bus way itu lagi? Lo yakin kita gak salah kostum??? Mereka baju warna kuning lho? Nah kita???” tatapan gue langsung tertuju ke segerombolan kuning itu. 
Masih gak percaya. Bener nggak sih?? Ini bener nggak sih??? Yakin nih??      
“iya yah??”
HAH??? IYA YAH APA??? IYA YAH KITA SALAH??? SALAH KOSTUM GITU MAKSUD LOHHH?? MAKSUD LOHHH??????!!!!
“terus Vit?” gue menelan ludah.
“udah tenang aja neng.. gak salah kostum kok. Gue yakin.” Vita masih berusaha menenangkan jiwa gue yang sedikit terguncang.
“he-eh.” Bibir gue kelu. 
Dan gak mau banyak bicara lagi. Ini memalukan.GIMANA KALAU TERNYATA SALAH KOSTUM? APA GUE HARUS TAROH MUKA GUE DI PANTAT LANDAK???!!!
***
Gue dan Vita berjalan menuju tempat yang di tuju. Kita berdua aja bingung mau ngapain disana. Jam menunjukan pukul tiga kurang lima belas menit. Masih ada waktu buat ngobrol lima belas menit sebelum meja pendaftaran flash mop di buka. Sejauh mata memandang. Memang semua orang memakai baju berwarna kuning. Rasanya aneh lho. Berada di tengah-tengah lautan orang memakai baju warna kuning. Tapi gue dan Vita pun hanya berusaha menikmati walaupun, gue sendiri, kurang enjoy.Mengingat Shifa mau datang juga ke acara ini. Akhirnya gue SMS Shifa.
Gue: Lagi dimans Shif?
Shifa: Iya ini lagi dijalan ta.
Gue: Oh, emang lo sama siapa?
Shifa: Sama anak CG.
Gue: Oh, yaudah nanti kabarin gue lagi ya…
Shifa: Oke tita.
----------------------------------------------------------------------------------Sambil menunggu Shifa datang. Gue coba telephone Radit. Karena hubungan kita sudah agak membaik. Jadi gue dan Radit saling kasih kabar.
“halo.. Asslammualaikum”
 sapa gue.
“Waalaikumusalam. Kamu udah sampai?” Tanya Radit. 
Seneng ya bisa dengar suara dia.
“udah kok. Hehe…” sahut gue, senang.
“kamu lagi apa? kamu udah makan?” Tanya Radit.
“hmm… belum.”
“kok belum?”
“hmm iya ntar aja..” masih dengan suara imut beud.
“jangan lupa makan ya.” ihhh so sweet yaaa dia khawatir sama gue.
“iya.”
Hening.
“dit?”
“iya?”
“kamu lagi apa?”
“lagi tiduran aja.”
“kamu udah makan?”
“udah kok.”
“oooohh…”
Hening.
“fit?”
“iya?”
“kamu udah dapet gratisan telephone?”
“udah.”
Hening.
“dit?”
“iya?”
“aku tutup dulu ya. Nanti aku kabarin kamu lagi.”
“oh. Ok. Kamu hati-hati ya…”
“Iya.. bye… Assalammualaikum.”
“ Walaikumusalam.” KLIK.
Terlalu banyak keheningan antara gue dan Radit. Tapi setidaknya gue seneng karena Radit memperhatikan gue. Udah lama nggak merasakan seperti ini. Di perhatiin seperti ini emang menyenangkan. Apa lagi kalau yang perhatiin pacar. Sayangnya, gue dan Radit hanya teman. Dan kita juga belum pernah kopi darat (baca: ketemuan).
***
Menunggu itu membosankan tau. Udah jam tiga tapi Vita tetep gak mau di ajak masuk. Tempatnya sih out door. So far so good. That’s not bad. And I think, everybody happy life in here. Tapi Vita punya sejuta alasannya dan salah satunya adalah malu. Dari ini lah. Sampai itu lah. Terlalu banyak alasan.
“masuk yuk Vit.” Ajak gue, geregetan.
“ntar aja neng.”
“kok ntar? Sekarang aja.”
“ntar aja.” Balasnya, santai.
“yaaaaah Vita.” Kata gue, kecewa.
“kenapa?” pertanyaan orang lugu.
“BETE TAU!”
“yaudah neng, sabar yaa..”
“rasanya pingin nari striptise deh disini.” Celetuk gue. Sambil kelsat klesot di dinding mall.
“HAH???” Vita memperhatikan gue dengak jijik.
“iya! ABIS ITU NARI ULAR DEH!” telapak tangan kanan gue bertemu dengan telapak tangan kiri gue. Kemudian membentuk farmasi pocong dan menggoyang-goyangkan pinggul. Kekanan. Kekiri. Kekanan. Dan kekiri lagi.Vita melihat gue dengan penuh kegelian. Mungkin yang dipikirkan dia. Titisan Pretty Asmara mau nari striptise dan ular disini?? SUUMPEH LOO???
***
Masih coba menghubungi Shifa. Sampai akhirnya gue dan Vita masuk untuk mendaftarkan diri ikut flash mob. Awalnya Vita bimbang. Karena acara flash mob jam lima sore. Sedangkan Vita harus cabut jam empat sore. Waktu itu sudah jam setengah empat sore. Jadinya, Vita dilema abis. Dan akhirnya Vita memutuskan. Untuk tetep ikut flash mob sampai selesai.Jam menunjukan pukul lima sore. Kala itu gue sudah berada didepan panggung. Satu hal yang harus lo ketahui. Ketika lo hendak pergi bersama temen lo keacara yang lo sebenarnya gak tau seperti apa. Sebaiknya lo tanyakan ke temen yang ngajak lo jalan. Coba lo tanyakan secara detail. Dari A sampai Z. Dan jangan pernah melakukan hal bodoh seperti yang gue lakukan.Ketika Vita ngajak gue pergi. Gue tanpa pikir panjang, deal. Lalu, ketika acara di mulai.
 MC bilang, “Prambors Radio”.
 Semua orang berkata, “Hits Terbaik Dunia.” 
Tapi gue punya karya sendiri, ialah, “bla, ca kabla”. 
Beruntunglah setelah gue sadar sebelum karya gue ketauan. Kemudian gue akan segera dibawa oleh pihak berwajib. Karena telah merusak nama baik sebuah stasiun Radio di Jakarta. Gue langsung buru-buru Tanya ke Vita.
“Vit, pada ngomong apa sih?” Tanya gue, penasaran.
“Hits Terbaik Dunia.” Jawab Vita, santai.
“ooooh” dan gue baru sadar.
 Padahal ada spanduk tulisannya gede-gede, “Hits Terbaik Dunia”. Tapi gue gak sadar kalau itu tag line nya. Gue menghela nafas lega. Dan menyadari ke bodohan gue saat itu.Kemudian gue liat perform mantan pacar gue, Gamal. Tetep masih usaha. Lalu melihat perform Geisha, selanjutnya band favorite gue, Nidji.Gue akhirnya bertemu dengan Shifa saat magrib menjelang. Flash mop bikin gue Setelah itu Vita ketemu idolanya mas-mas yang bawain acara The Dandees. Dan terakhir gue ngeliat perform nya Vierra. Satu kata yang pingin gue sampaikan saat melihat Kevin Aprilio adalah, “mas, poninya gak ngerusak mata? Kayaknya poni mas Kevin terlalu menibani mata mas Kevin deh. Tapi mas tetep kece kok (modus, karena takut dikeroyok fans Kevin Aprilio)”
***
Pukul delapan malam. Gue dan Vita pulang rumah. Harus di sadari kalau dari pagi hingga malam menjelang gue belum makan nasi sama sekali. Alhasil gue lapar sekali. Dan dengan setengah hati gue meninggalkan tempat tersebut. Karena gue juga gak mau egois. Harus disadari juga. Vita sedang school exam. Jadi, tetap harus mengutamakan Vita dari pada pribadi sendiri.Alasan gue belum mau pulang adalah karena gue belum ketemu RAN. Tapi mungkin memang belum berjodoh aja. Lain waktu gue berusaha untuk ketemu dengan idola gue yang satu itu. Idola yang udah gue sukai karyanya dari tahun 2007.Dengan penuh lelah dan letih. Gue duduk anteng di kursi bus trans Jakarta yang mengantarkan gue menuju rumah. Kangen dan pingin sedikit sharing bersama temen-temen di facebook. Lalu, gue buka facebook gue. Ditemani lagu dari mas Adithia Sofyan, In To You. Gue sedikit shock dan kecewa.Pasalnya, gue melihat di dinding Era. Kalau Radit mengirim, “I Love You :D”. Dan beberapa puisi cinta lainnya.Gue menghela nafas panjang. Berusaha menikmati perasaan itu. Berusaha menyadari. Berusaha ikhlas atas semuanya. Gue kecewa. Gue gak bisa menutupi itu. Tapi gue harus terima. Ada perasaan sedih pas liat itu. Kenapa ya rasanya sedih gini?? Radit kan bukan siapa-siapa gue. Buat apa gue kecewa? Buat apa gue sedih?? Buat siapa???
***
Pelajaran yang gue alami hari itu adalah:
Pertama.
Jangan langsung percaya sama ajakan temen lo. Karena sebagai manusia lugu dan polos lo harus sadar. Kalau lo gak update acara begituan.
Kedua.
Jika lo setuju dengan ajakan temen lo. Sebagai manusia lugu dan polos. Lo harus banyak cari tahu acara apa yang akan lo hadiri nanti bersama temen lo itu. Jangan sampai lo salah kostum sampai-sampai lo gak tau jenis acara apa yang akan lo hadiri nanti.
Ketiga.
Jangan update status di jejaring social lo. Karena itu akan membuat lo terlihat lebih norak.
Keempat.
Siapkan mental lo. Ketika lo merasa kecewa. Karena lo gak ketemu idola lo.
Kelima.
Jangan buka jejaring situs social buat update status apalagi yang sekiranya ada hubungannya dengan gebetan lo. Karena kalau lo lihat ‘sesuatu’ lo akan kecewa.

Pelajaran itu penting bagi gue. Dan yang gak kalah penting dari 
semua nya adalah GUE BUKAN SALAH KOSTUM karena pakai kemeja biru dan Vita pakai T-Shirt hitam. Tapi GUE SALAH PERASAAN karena gue udah suka sama orang yang salah. Dan orang itu justru menyukai sahabat gue sendiri. Seharusnya gue menyadari itu. Dan menyadarinya dari kemarin. Bukan sekarang.
***

Bukan salah kostum tapi salah perasaan.

Komentar

Celoteh Paling Populer