Cerpen "Bravo Logam !!"

Suatu hari, gue pernah jaga toko milik nyokap gue yang letaknya tidak jauh dari rumah gue. Waktu itu sekitar jam 11 malam, ada seorang laki-laki yang beli susu kental manis kaleng. Karena di toko gue stock nya lagi habis. Akhirnya gue menawarkan susu kental manis sachet. Si pembeli ini pun mengikuti saran gue. Dia juga terlihat sedang sakit, setelah gue Tanya-tanya ternyata dia lagi sakit kepala. Lalu, gue tawarin obat sakit kepala. Kemudian dia juga bilang ke gue kalo dia lagi masuk angin. Seperti sebelumnya gue tawarkan orang ini obat masuk angin. Gue jual, dia beli. Transaksi uang pun berlangsung. Dia memberikan duit lima puluh ribu ke gue. Ternyata, dari duit tersebut ada kembalian. Semua pun berlalu begitu saja.
***
 Esoknya gue melakukan aktifitas seperti biasa. Bangun, mandi, sarapan, kesekolah, main PS, nongkrong dan pulang. Dari jam 7 pagi gue udah mulai beraktifitas dan berakhir jam 5 sore. Sampai rumah udah ada bokap gue, adik gue namanya Gita dan Indra, abang gue yang lagi asyik ngobrol di depan rumah. Beginilah keluarga gue. Setiap sore kita selalu bisa menyempatkan diri untuk kumpul bersama. Disitu gue agak bingung sih. Sejauh mata memandang, gue nggak ngeliat batang hidung nyokap gue. Tapi gue biarkan aja. Palingan nyokap gue lagi kesesuatu tempat bersama temen-temennya. Ibu-ibu itu memang sulit untuk ditebak, ckckck.
***
Sekitar jam 6 sore nyokap gue balik ke rumah. Nyokap langsung mencari gue. Gue kaget dan terkejut “WOW, kenapa ibunda mencari saya?” itulah kalimat yang keluarkan saat ketemu nyokap. Dan nyokap gue membalasnya, “Gilang, ada sesuatu  yang ganjanl yang sedang ibunda temui.” Kata nyokap gue serius sambil menyeringai. Hal tersebut semakin membuat  gue penasaran. “whats happen?” - kayak twitter ya -  gue semakin dibuat nyokap gue penasaran. Kemudian nyokap gue mengambil sesuatu dari dompetnya dan… “tidak-tidak, saya tidak bisa disogok.” Seakan-akan gue seseorang yang sedang menyimpan suatu rahasia, yang kemudian rahasia itu akan gue bongkar di depan pengadilan dan nyokap gue berusaha untuk menutup mulut gue rapat-rapat. “hey anak ku coba kau perhatikan uang ini. Ada sesuatu yang tidak kau ketahui” entah kenapa bibir nyokap gue dimonyong-monyongin gitu. Gue pun mengikuti anjuran nyokap gue. Sekilas uang ini biasa saja. Seperti duit jajan gue yang sehari-hari dikasih nyokap gue. Tapi tunggu… tunggu… tunggu… gue lihat, gue raba dan gue terawang. Ini tidak mungkin. Uang lima puluh ribu ini tidak berbenang pengaman dan samar-samar. Itu tandanya…. Tuhan!! Ternyata gue sudah ditipu oleh pembeli yang beli susu sachet kental manis malam itu. Ini benar-benar diluar dugaan gue. Mulut gue manganga setelah mendapati kejadian ini. Nyokap gue pun hanya mengelus dada. Sungguh ironi diatas ironi. Dan ini buat gue mulai nggak percaya sama uang lembar. Apakah uang logam bisa dipalsukan juga? Gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Ini kejaaammmm.
***
Sejak kejadian itu gue jadi ngga percaya lagi sama uang selembaran/kertas. Kata adik gue, Gita. Gue itu berlebihan. “Abang aneh, masa cuma gara-gara uang palsu abang jadi parno gini” kata Gita. Sumpah, gue parno. Gue jadi kurang percaya terhadap uang. Mungkin kita harus kembali ke jaman barter. Menukar barang satu dengan barang lainnya. Dari pada harus ditipu oleh duit palsu. Masih untung duitnya Cuma lima puluh ribu coba kalo banyak? Ratusan? Ribuan? Jutaan? Miliaran? Triliunan? God!! Nyokap dan bokap juga bingung dengan keadaan gue yang berubah. Tapi tidak untuk abang gue, Indra, dia yang selalu pro sama gue. “Pokoknya, I Love You, abang” kata gue sambil memeluk lengan tangan kanannya yang agak kekar. Dia nggak ngerasa ada yang aneh sama gue. Mungkin, dia juga pernah ngalamin pengalaman yang sama kali ya sama gue?
Pagi ini gue berangkat ke sekolah. Sebelum pergi gue sarapan dan minta uang jajan sama nyokap atau bokap gue.
“mama, duit maaa…” kata gue dengan manjanya dan menyodorkan tangan kanan gue.
Mama pun memberikan uangnya ke gue. Tapi tunggu! Ini bukan uang yang gue mau. Gue ga mau uang kertas. Dengan terpaksa gue menolak mentah-mentah.
“sorry ma, ga bisa!” gue udah berpaling dari uang kertas. Sekarang gue lebih suka uang logam.
“apa??!!” mama terkejut mendengar penolakan gue yang secara frontal. “lalu, kamu mau duit yang bagaimana???”
“aku mau uang logam!” balas gue dengan penuh keyakinan.
“kok duit logam sih, lang?” Tanya mama heran. Ya, semenjak saat itu gue lebih tertarik ke uang logam. Karena sepemikiran gue, uang logam itu tidak akan palsu.
“Gilang, kok kamu jadi aneh begini?” kata bokap penuh kecurigaan dan mengernyitkan dahinya.
“tenang paaa… maa….. Gilang ga aneh kok.. Gilang masih normal hehehe masih suka sama cewek dan masih suka main PS.” Kata gue kemudian. “Ini nih Gilang punya ini.” Lanjut gue dengan bangga dan yang menunjukan sebuah kantong untuk menyimpan uang logaman ini.
“abang!” Adik gue datang menghampiri gue dan menggenggam tangan gue, “abang kenapa abang?” Gita pun menanyakan hal yang ga jauh beda dari nyokap dan bokap gue. Ada apa dengan gue??? Ada apa???? Ada apa????
“abang kamu lagi mengalami kegagalan dalam kepercayaan Git.”sambar  bang Indra.
“Tidak ada yang harus di khawtairkan dan di permasalahkan.” Kata gue dengan gaya cool dan percaya diri gue berkata demikian.
Nyokap, bokap beserta adik gue Cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala karena perubahan sikap gue. Mereka masih menganggap gue aneh. Biarin aja. Gue ngga peduli. Lagi pula sejauh ini gue masih fine-fine aja. Dari pada lama-lama dirumah mending gue langsung pergi ke sekolah. Nyokap juga udah kasih uang jajan ke gue. Saatnya bye-bye rumah, bathin gue berseru.
***
XII IPA 2, adalah kelas yang memberikan memori indah gue bersama teman-teman gue dan orang yang udah buat gue suka sama dia dari kelas satu SMA. Dengan usaha dan kerja keras akhirnya gue bisa sekelas sama dia. Setiap hari gue selalu bahagia dibuatnya, dia selalu buat gue nyaman karena dia. Namanya Winda, bagi gue dia itu smart dan benar-benar beda dengan cewek pada umumnya. Entah kenapa gue bisa suka banget sama dia. Sampai saat ini pun gue masih suka sama dia walaupun dia ga suka sama gue. Mungkin ini yang dinamakan nasib.
“lah ngelamun, masih jaman?” celetuk Adhfi sahabat gue. Lo pasti tau Vino G. Bastian? Nah, Adhfi itu suaranya mirip banget sama Vino. Banyak banget cewe-cewe disekolah yang tertarik sama dia. Tapi tidak dengan gue. Lagi-lagi ini nasib gue.
“kagak!” bantah gue tegas. Dia itu selalu bisa baca gerak-gerik gue. Mungkin karena factor kita udah sahabatan dari kelas 2 SMP.
Tiba-tiba Adhfi menepuk pundak gue dan mengajak gue untuk memperhatikan tingkah konyolnya. Ia mulai dengan  menaiki kursi kemudian meja kelas. Kaki kanannya yang berada di atas meja dan kaki kiri yang berada di belakang kaki kanan Adhfi tepatnya sih di kursi, lalu Adhfi menangkat tangan kanannya dan tangan kiri ia mengepal, seraya didepan dada dan edisi mempermalukan gue dimulai…
“ooohhhh cintaaaa… mengapa engkaaauuu tak hadir diantara aku dan ia??? Mengapa kau bisukan mulutku ini cintaa??? Mengapa kau buat raut wajahku sangat bodoh saat bersamanya?? Mengapa kau tak berada diantara diriku dan dirinya?? Agar kita bersatu… bersama … selamanyaaaaaaa” puisi macam apa ini?? Kalo ada kontes baca puisi si Adhfi baru tarik nafas juga udah disuruh out. Buat gue mual aja. Jijik gue sama muka Adhfi. Tapi gue nggak malu kok, karena gua sudah terbiasa dipermalukan sama Adhfi. Seisi kelas mentertawakan Adhfi dan gue. Haduh, bikin gue males aja. Cari bahan topic apa ya? Hmmm…. Aha!!
“gue mau ke kantin, lo mau ikut ngga?” tawaran gue yang Cuma speak doang.
“mau!” elah kemakan speak sendiri gue.
“ayooo, lang..” lanjut Adhfi yang semangat.
Cuma beberapa menit gue udah sampai kantin karena kelas gue di lantai 1. Beruntunglah kelas gue nggak terlalu jauh dari kantin. Kasian yang kelasnya dilantai 4. Capek aja..
“gue mau beli chiki, lo?” Tanya gue ke Adhfi sesampainya di kantin.
“sama deh, lang.”jawabnya denga gaya yang santai.
“chiki ini harganya berapa mbak sum?” Tanya gue ke pemilik warung yang gue tuju.
“satunya dua ribu mas Gilang.” Jawab mbak sum
“yaudah beli lima. Buat ngemil, fi.” Kata gue dan mbak sum mengambil chiki yang gue maksudkan. “jadinya sepuluh ribu kan mbak sum?” lanjut gue. Mbak sum hanya menanggukan kepala dan perlahan gue pun mulai mengambil kantong favorite gue. Gue hitung uang logan seribuan hingga menjadi sepuluh ribu dan terhitung ada sepuluh uang logam yang gue berikan ke mbak sum.
“lang, kalo ngga ada duit lembaran bilang. Jangan pake uang recehan juga kali.” Kata Adhfi berbisik.
“mbak sum nggak masalah kan kalo saya kasih uang logaman ini?” mbak sum hanya menggelengkan kepala itu tandanya dia nggak ada masalah. Huft, mungkin Adhfi masih kaget dengan perubahan gue. Dan kita berlalu. Adhfi belum mau bertanya sama gue lebih jauh. Padahal gue udah siapin jawaban buat pertanyaan Adhfi nanti, tapi gue juga ga bisa paksa. Lagi pula juga nanti gue pasti cerita sama dia, itupun kalo dia udah benar-benar paksa gue. Hahaha
***
Menunggu itu memang membosankan. Apa lagi nunggu bus yang ngga dateng-dateng dan di halte sendirian pula. Alasan gue naik bis karena Winda sih. Gue sih berharap bisa ada dia disini. Hehehe kepo ya gue? Dari pada gue ngelamun nggak jelas dan bengong. Mendingan gue baca buku penulis favorite gue, Raditya Dika. Untung-untung ngisi waktu luang kan?
Baru baca beberapa halaman tiba-tiba ada suara yang sedikit mengejutkan gue karena datenganya tanpa gue duga..
“hey nunggu bis juga? tanya seorang cewe didepan gue. Dari suaranya sih gue kayak kenal. Dengan posisi semula yang menundukan kepala karena gue memfokuskan mata gue ke buku kini perlahan gue mulai menangkatkan kepala gue dengan menghadapkan wajah gue ke orang yang bertanya tersebut dan gue agak kaget. Wow, ada apa dia disini? Bener ya kata Adhfi, dia suka naik bis juga. thanks bro.
“Winda?” Tanya gue dengan senyum pepsodent. Gue seneng banget ada Winda disini. Ini nggak mimpikan? Yakan? Yakan? Yakan? “kamu naik bis juga Wind?” Tanya gue speak. Padahal gue tau kalo Winda naik bis.
“iya, aku lagi mau nunggu bis.” Balas Winda yang diselingi senyuman dan kemudian duduk disamping gue. Semakin lengkaplah kebahagiaan gue saat sang pujaan hati ada disini. Walaupun gue sekelas sama Winda tapi baru sekarang gue ngerasain gugup yang jarang banget gue rasain. “aku baru tau lho kalo kamu naik bis juga, lang.”. Gue pun Cuma menggeleng-gelengkan kepala gue.
 Keliatannya Winda keringatan banget. Wajar aja diluar cuacanya panas. Gue mulai ambil sapu tangan yang ada disaku belakang gue, “sorry” gue pun mulai mengelap keringat di dahi dan sekitar pipi Winda. Winda pun membalasnya dengan senyuman. Wind, seandainya lo tau kalo gue udah suka lama sama elo. Seandainya gue punya keberanian buat mengungkapkan semua perasaan gue sama lo. Seandainya gue bisa jujur sama apa yang gue rasain saat ini. Gue akan merasakan kebahagian lebih dari ini. Tapi semua itu hanya seandainya.
“eh lang bis-nya dateng” Winda pun menyadarkan gue dari lamunan yang semakin melambung. Duh! Bodohnya gue terlalu banyak mengkhayal
“….”
“ayooo kita naik bis-nya Gilang…” Winda mengajak gue dan seketika dia menarik tangan gue dan menggenggamya. Akhirnya setelah sekian lama gue bisa merasakan hangatnya jemari Winda.
***
Malam ini ditemani secangkir kopi susu dan sebuah gitar gue mulai bernyanyi lagu In To You dari Adhitia Sofyan. Membayangkan ada Winda disini, kemudian menemani gue dan kita nyanyi bersama. “Im In To You” sepenggal kalimat di lyric buat Winda dari lagu In To You. Pingin lagi deh pulang sekolah bareng Winda. Ternyata benar ya kata Adhfi, Winda itu menyenangkan, easy going, dan smart. Gue banyak belajar dari dia tentang kehidupan dan kepercayaan. Winda, gue suka sama lo dan ternyata gue sayang sama lo. Lo buat hidup gue berarti Wind.

Tookkk Tookk Tookkk
“abang maaf abang… Gita ganggu abang ya abang?” kebiasaan nih Gita nyelonong masuk aja. Tanyanya setelah udah masuk lagi. Dengan tatapan tajam, gue memperhatikan Gita dengan seksama. Kayaknya adik gue lagi broken heart, kata gue dalam hati.
“ada apa ke kamar abang?” jarang Gita ke kamar gue dengan raut wajah yang ditekuk gitu. Kayak mau mati aja gara-gara dosanya banyak dan bingung tebusnya gimana. Gue pun cekikikan didalam hati.
Gita mulai duduk dikursi kesayangan gue yang letaknya dekat jendela kamar gue. Sebentar, menurut lo Gita itu cewe apa cowo? Hahaha, alasan gue Tanya ini karena banyak banget orang yang salah duga. Banyak banget yang bilang Gita itu cewe karena mereka taunya Gita dari namanya bukan wujudnya. Sebenarnya, adik gue ini adalah cowo tulent yang berumur 14 tahun. Nama aslinya Agista Sudjiwo. Kata orang-orang Gita mirip Eza Sigit, tapi Gita lebih senang kalo dibilang mirip bokap. Gita itu biasanya ketemu gue kalo soal kisah asmaranya. Kayak sekarang ini nih, dan kayaknya ada something wrong?
“soal cewe lagi?” Tanya gue berlanjut.
“abang pasti ngerti abang perasaan adik mu ini abang…” Gita lagi galau berat nih. Kasian adik gue. Apa gue harus panggil orkes dangdut buat ngehibur hatinya?
“ada apa dengan gebetan lo itu?”
“masa dia jadian sama orang lain abang. Parahnya lagi abang, dia jadian sama musuh gue abang. Sakit abang rasanya, sakit…” Gita menusuk dadanya dengan sisir gue. Seakan-akan mati itu enak yaa..
Waduh terkejut gue dengarnya. Kok tiba-tiba gue inget Winda ya? Gue takut kalo Winda juga malah jadian sama orang lain. Pasti gue sedih dan kecewa banget. Nyesek dan lebih parah lagi galaunya dari adik gue. Bukan sisir yang nancap di dada gue tapi kusen jendela gue biar lebih gede sekalian.
“sabar Gita. Abang yakin cewe itu salah pilih. Karena abang yakin kamu yang terbaik!” Gue merangkul adik gue. Gue emang nggak bisa buat dia menghilangkan rasa galaunya malam ini. Biar lebih plong mending main gitar sama gue. Puas-puasin deh nyanyi lagu galau. Abis itu gue berharap perlahan Gita buat semua keadaan baik-baik aja. Semoga adik gue nggak galau berlarut-larut. Aminin yaaaaa.
***
Pagi-pagi buta gue langsung berangkat kesekolah. Besok disekolah gue ngadain acara debat antar kelas. Gue pun mewakili kelas XII IPA 2 bersama 2 rekan gue Winda dan Gusti. Jadi gue mulai melakukan Technical Meeting pagi ini.  Dan gue denger-denger sih temanya “perbedaan uang logam dan kertas.” Harapan gue sih semoga kelas gue bisa dapet tema uang logam. Hahaha, bathin gue yang tertawa licik.
Seperti sebelumnya gue menunggu bis untuk berangkat sekolah. Beruntunglah gue bangun pagi  sehingga gue nggak perlu merasa terburu-buru untuk sampai sekolah. Lagi juga aneh sama OSIS disekolah gue. Yang pernah gue rasain sebelumnya TM (Technical Meeting) itu siangan ini malah pagi sebelum siswa masuk kelas. Mungkin biar efektif dan ngga ada alasan ngeganggu pelajaran Cuma karena TM. Good job! Tiba-tiba handphone gue berbunyi. Setelah gue lihat ada SMS dari Adhfi.
Sender: Adhfi
                Lau dimans?
To       : Adhfi
                Dihalte bis.
Sender: Adhfi
                Gue kesitu sekarang.
Ada angin apa Adhfi mau berangkat bareng gue? Biasanya sih memang berangkat bareng gue kesekolah tapi kalo gue nya lagi pingin bareng aja. Belakangan ini sih gue lagi pingin berangkat  dan pulang sendiri dan menurut gue Adhfi adalah tipe sahabat yang pengertian. Apa lagi, gue juga mulai PDKT sama Winda. Winda, itu kalo berangkat dan pulang naik bis. Inilah yang menjadi salah satu cara PDKT gue sama Winda. Dengan cara sama-sama naik bis juga. Winda udah bangun belum ya? Pinginnya berangkat bareng Winda. Hehehe menghirup udara segar kota Jakarta sekaligus ditemani sang pujaan. Hehehe
“ngga lama nunggu kan?”suara itu mengagetkan gue yang lagi asyik melamun. Lagi-lagi gue berpikir ada Vino G. Bastian yang nyadarin gue saat melamun.
“enggak kok, woles aje.”
“ada apa lo berangkat jam segini? Ini kan masih jam lima pagi, lang.” aha!! Gue tau maksud Adhfi apa. Intinya dia mau cari tau tentang gue. Dasar kepo. Entahlah dia penasaran gue karena apa. Tapi sudah terbukti, dia bela-belain bangun jam segini. Setau gue ya Adhfi itu, pertama sulit untuk bangun pagi (jadi gue sudah terlalu sering bangunin dia), kedua dia itu susah kalo diajak naik bis. Dia aneh sekali. Ada yang disembunyikan. Gumam gue dalam hati dan menyeringai.
“ada TM disekolah.”
“hah? Sepagi ini? OSIS macam apa itu?? TM kan biasanya siangan ini kepagian.” Sempet gue berpikir sama dengan Adhfi.
“suka-suka OSISnya. Mereka yang buat acara.” Lanjut gue
“oke deh.” Balas Adhfi. Tak lama kemudian, Bis yang gue tunggu pun mulai terlihat. Tanpa kata-kata lagi gue menghentikan bis-nya dan naik ke bis yang gue tuju bersama Adhfi menuju sekolah.
***
Gue bersyukur, ternyata kelas gue dapat tema uang logam. Hahaha saatnya mempertahankan argument gue dan berjuang untuk UANG LOGAM. Seharian ini gue lebih banyak mengahabiskan waktu di Perpustakaan Nasional. Mungkin agak aneh bagi orang-orang terdekat gue terutama nyokap. “apa???!! Kamu ke perpus? Sejak kapan kamu suka baca???” itu respon nyokap saat gue certain kalo gue pulang telat karena baca buku diperpus. Huft, dari dulu nyokap Cuma anggap gue badung. Tapi buktinya gue bisa masuk IPA. Terus gue bisa peringkat 5 besar terus di semester 2 nya. Tapi tetep aja nyokap anggap gue nggak ada apa-apanya. “kamu tuh beda sama abang kamu, si Indra. Dia itu calon dokter yang baik. Coba kamu bisa seperti dia. Nurut dan nggak neko-neko, mama juga udah seneng Gilang” aaarrrggghhhh rasanya kalo denger kalimat tadi gue pingin pecahin kaca semua dirumah atau gue sumeplin kuping gue pake spongebob.
 “katanya kamu ikut debat ya bang?” Tanya bokap ke gue.
“iya pah, kok tau pah??” Tanya gue berbalik. Ada kecurigaan sejak kapan bokap jadi tau hal yang ga dia ketahui sebelumnya??
“tau lah bang, si mama cerita sama papa katanya kamu ikut debat. Emang temanya apa?” astagaaa nyokap bocor halus -_-
“uang logam dong..” kata gue yang sambil menyeringai setan
“emang udah matang topiknya?”
“udah.” Balas gue singkat
“yaudah good luck deh buat abang..” lanjut bokap
“emang papa ga mau nonton abang?” Tanya gue berharap
“ngapain papa nonton abang debat? Mending abang debat sama papa.” Gue pun Cuma terdiam. Sumpah, perkataan bokap gue kali ini kayak lagu Afgan judulnya sadis.
Huh, gue berharap besok akan tampil maksimal dan dapat hasil yang memuaskan. Amin.
***
“tetap tidak bisa! Saya masih berpendirian pada pendirian saya dengan mempertahankan kualitas uang logam yang sulit untuk dipalsukan! Uang kertas sekarang mudah dipalsukan teman-teman. Tidak usah jauh-jauh. Orang yang berada didepan anda semua adalah salah satu orang yang telah tertipu oleh oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab dan telah memalukan Bank Indonesia sebagai penghasil alat transaksi tersebut. Memalsukan uang sama saja telah mencoreng nama baik teman-teman. Sekarang apakah uang logam dapat dipalsukan? Mungkin kalau di cermati secara seksama kita akan lebih pintar dari penipu yang telah menipu anda-anda melalui uang kertas. Namun bagaimana jika bagi mereka yang kurang cermat. Terbukti betapa liciknya para penipu itu. Jika anda tetap bersikukuh dengan pendirian anda kepada uang kertas. ITU SAMA SAJA ANDA MENDUKUNG PARA PENIPU ITU!! BRAVO LOGAM!! BRAVO LOGAM!!” api berkobar-kobar didada gue. Semakin memicu gue untuk menjatuhkan uang kertas dihadapan public. Tapi tim gue tetap kalah karena gue terlalu emosi dan kata-kata tidak terkontrol. GOD gue malu bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttttttttttt!!!!!!!!!!!!!
“yaudah udah terjadi lang, nggak ada yang harus disesali lang.”Winda beserta teman-teman yang menghibur gue saat gue sedang kecewa karena juri lebih memilih XII IPS 4 yang interest ke uang kertas.
“lo tetap hebat dimata kita semua.” Adhfi memuji gue saat itu.
“gue mau ngomong sama Winda.” Kata gue, “berdua aja”
“oke deh…” lanjut Adhfi dan teman-teman pun memberikan waktu gue untuk berdua dengan Winda.
“ada apa Gilang?” suara itu manis didengar..
“maafin aku.”
“maaf kenapa?”
“karena aku buat malu XII IPA 2.”
“Nggak apa-apa. Aku dan teman-teman yang lain ga masalah kok.”
Sudah waktunya gue bicara jujur sama Winda.
“Wind..” jantung gue berdegup kencang. Lebih kencang dari twister di Dufan.
“apa?” matanya Winda mulai menatap gue tajam.
“gue sayang lo.”
“…”
“aku sayang kamu Winda. Dari kelas 1 SMA.” Winda Cuma balas dengan senyuman dan kayaknya dia ga tertarik sama gue.
“kenapa?”
“…” gue bingung
“kenapa baru ngomong sekarang? Kenapa nggak dari dulu aja? Aku udah nunggu lama.” Lanjutnya. Aha!! Gue punya ide!
“ini kan ada logam seribu. Kamu perhatikan deh, ada gambar angklung dan ada gambar nominal angka seribu. Aku kasih kamu dua pilihan tapi sebelumnya aku Tanya ke kamu dulu, Winda Andriayana maukah kamu jadi pacar aku?? kalo mau, kamu pilih gambar angklung ini kalo nggak kamu pilih gambar nominal angkanya..”
“eemmmm…”suara Winda ragu-ragu. Jadi khawatir gue. “harus jawab sekarang ya?”
“iyaa Winda….”
“…”
“Gimana?” lanjut gue
“aku ga bisa pilih.” Bener-bener nasib gue nih. Intinya gue ditolak kan sama Winda. Sabar aja lah.. “aku belom selesai ngomong Gilang” lanjutnya
“terus?”
“lulus sekolah aku mau Australia buat lanjutin kuliahku nanti disana. Aku nggak bisa LDR.” Makin bingung gue. “dan aku sayang banget kamu Gilang…” kecupan itu mendarat dipipi gue.
Aaaarrrrrrrrrrrggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhh gue bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, love you Windaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……….
“aku bakal nunggu kamu Winda buat balik ke Indonesia.” Gue pun langsung peluk Winda dan seakan ga mau lepasin dia.
“tapi ingat pesan aku ya….”
“apa?”
“jangan pernah benci sama uang kertas yaa. Kamu harus  rajin belajar cermat, teliti dan kritis hehe dan satu lagi..” senyuman itu manis… “aku suka kamu pakai uang logam.. hahahahaha” ledek Winda dan itu semua buat gue bahagia.
Walaupun endingnya gue nggak jadian sama Winda tapi terjawabkan kalo Winda sayang gue dan gue juga sayang sama dia. Gue bisa simpen perasaan selama 3 tahun masa Cuma 4 tahun aja nggak bisa. Hahaha gue akan selalu mendoakan lo di Australia, mencintai lo, menyayangi lo dan perhatian sama lo Winda… sekarang disekolah gue udah ngga ada yang anti sama logam dan gue??? tetap setia sama logam lah… BRAVO LOGAM!!
*** 

Komentar

Celoteh Paling Populer