Surat Untuk Presiden Terpilih,
Jokowi.
Jakarta, 20 Oktober 2014.
Salam
Sejahtera,
Selamat Pak Jokowi atas terpilihnya
menjadi orang nomor 1 di Bumi Pertiwi ini. Saya beserta keluarga lega setelah
menyaksikan pemilu kemarin yang sempat berseteru, sehingga banyak media-media
mainstream mengangkatnya menjadi hardnews
dan kemudian disusul dengan keputusan dari Mahkamah Konstitusi serta KPU.
Namun, tahukah Bapak ada berapa persen rakyat Indonesia yang ‘buta’ dan ‘melek’
politik pada tahun ini? Kemarin malam, saya miris saat membaca chat bbm dari
sahabat saya (nama disamarkan) mengenai penyambutan presiden terpilih Joko
Widodo atau Jokowi.
Ada perasaan dilemma yang saat ini tengah saya rasakan, Pak. Saya memang
hanya mahasiswi biasa. Tidak terlalu paham betul tentang dunia politik di Negeri
ini. Bahkan, saya bisa disebut sebagai rakyat miskin. Saya anak dari seorang
buruh di sebuah Pabrik milik perusahaan asing. Biaya dari gaji ayah saya
sebagai buruh tidak cukup untuk membiayai sekolah saya untuk menutupi
kekurangannya ibu saya berwirausaha menjadi penjual ayam goreng. Untungnya
memang tidak seberapa, tetapi cukup untuk membiayai makan kami sehari-hari.
Saya tinggal bersama kedua orang tua saya dan saya adalah anak satu-satunya.
Bahan pokok kian hari makin membumbung tinggi. Saya yang miskin seperti ini
pun, masih sangat bersyukur karena minimal keluarga saya yg perantau masih
dapat menempati rumah kontrakan serta sepetak rumah untuk usaha ayam goreng ibu
saya.
Saya adalah satu dari jutaan lebih rakyat
miskin di negeri yang baru saja akan Bapak pimpin kelak. Nahkoda ada di tangan
Bapak saat ini. Tapi, saat membaca chat bbm dari sahabat saya, membuat saya
terhentak sejenak. Di tempat saya mengenyam pendidikan, saat
organisasi-organisasi resmi kampus membuat event-event menarik, para mahasiswa bukan lagi
tertarik pada event yang dibuat oleh
organisasi tersebut, melainkan pertanyaan yg saya dapati pertama kali adalah,
“Dapat point SKKM?”
Poin Satuan Kredit Kegiatan
Mahasiswa (SKKM) yaitu salah satu cara pengiming-imingan mahasiswa yg sebetulnya bertujuan agar menjadikan mahasiswa lebih aktif lagi bukan hanya di dalam kelas saja. Sehingga mahasiswa merasa pengumpulan poin ini bersifat kewajiban demi menambah poin SKKM-nya.
Apa tanggapan Bapak dari cerita
mengenai poin SKKM tersebut? Sebagai mahasiswa biasa menurut saya pertanyaan
seperti itu sah-sah saja. Terutama bagi mereka yang terbiasa KuPu-KuPu alias
Kuliah Pulang-Kuliah Pulang. Point SKKM itu sangat berfungsi bagi mereka yang
jarang bergerak aktif di organisasi kampus, tetapi sekali lagi Pak, seorang
mahasiswa bukan hanya sekedar kuliah dan mengejar gelar namun, ada banyak hal
proses yang harus dilalui salah satunya ilmu yang tidak ia dapatkan di dalam
perkuliahan atau kelas. Bapak sudah khatam dalam soal seperti ini dibandingkan
saya dan Bapak jauh lebih berpengalaman daripada saya.
Inilah
keresahan saya Pak. Contoh kecil seperti di kampus saya sudah membuat saya
selalu bertanya-tanya, “Dimanakah cara mereka memaknai arti dari sebuah
pengalaman? Sampai kapan mereka menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan
point SKKM? Sampai sejauh mana mereka lebih memprioritaskan point SKKM daripada
ilmu dalam setiap acara yang terselenggara?” semua saya kembalikan kepada
jawaban tiap masing-masing individu dan saya tidak akan mengulik lebih dalam
lagi.
Saya
adalah pemilih pemula dan saya melihat cerita dibalik Point SKKM itu kini
merujuk pada sistem baru di negeri ini. Mungkin sikap ini sudah lama di ambil
oleh para tim-tim sukses dari partai-partai terpilih. Bahkan, kalau saya yang
membahasanya pasti sudah sangat basi atau mungkin saja saya sudah sangat
terlambat karena telah menjadi rahasia umum. Tapi saya tidak meminta lebih Pak,
saya hanya ingin Bapak sebentar untuk membacanya. Mungkin akan sangat menyita
waktu Bapak yang terbilang sangat sibuk dan padat jadwal.
“Saya menghargai usaha dari
pihak penyelenggara untuk acara penyambutan Bapak, tapi sikap yang di ambil oleh
pihak penyelenggara menurut saya, sikap yang berlebihan. Bertolak belakang
dengan sikap Bapak yang merakyat ketika saya lihat dari media massa. Kedua
orang tua saya salah satu pendukung Bapak. Seorang buruh dan pedagang ayam
goreng. lalu, bagaimana dengan sertifikat itu? mungkin memiliki fungsi bagi
kaum intelektual seperti mahasiswa. namun, Entah apa fungsi sertifikat untuk
kedua orang tua saya, tapi saya merasa pendukung Bapak bukanlah mereka yang
harus selalu di beri embel-embel uang atau materi dan sebagainya. Ini hanya
subjektivitas saya semata, tapi uang yang di keluarkan atas nama RI inilah yang
menjadi pertanyaan besar bagi saya. bahkan mendapatkan T-shirt, pula. Pak,
daerah-daerah terpelosok di Negeri masih luput untuk diketahui oleh banyak media
massa yang umumnya berpusat di Ibu Kota. Bahan pokok seperti sandang, pangan
ataupun papan masih sulit di dapatkan di kota metropolitan. Negeri ini pun
masih jauh dari kata Merdeka, Pak. Mengapa saya berkata demikian, karena mereka
yang Merdeka adalah mereka yang tahu dimana, kenapa dan apa alasannya mereka
mendukung bapak. Bukan mereka yang ikut-ikutan karena embel-embel atau
iming-iming dari pihak-pihak tertentu demi mendapatkan dukungan massa untuk
kepentingan pihak terkait.”
Saya
menceritakan tentang chat bbm yang saya terima dari sahabat saya kepada seorang
teman yang sudah berpengalaman dalam bidang jurnalistik, ia mengatakan,
“kemenangan Pak Jokowi-JK itu bukan hanya milik partai pengusung tapi
kemenangan seluruh rakyat Indonesia.”, sehingga teman saya menyayangkan jika nantinya
yang terjadi justru pengkotak-kotakan antara pendukung dari partai pengusung
dengan rakyat Indonesia. Karena sebetulnya massa (rakyat Indonesia) akan datang
mendukung Bapak dengan sendirinya tanpa harus difasilitasi atau bahkan dibayar.
Semoga,
sikap berlebihan tersebut bukan cerminan dari kepribadian rakyat Indonesia
melainkan sikap para tim sukses yang salah dalam menggunakan metode
berkomunikasi demi meraup massa. Karena mereka yang memilih Bapak seperti kedua
orang tua saya, tidak pernah meminta lebih. Selain berharap negeri ini menjadi
jauh lebih baik dari sebelumnya setelah memilih Bapak menjadi Nahkoda di Negeri
agraris dan maritim ini. Satu suara dapat menentukan segalanya, Pak.
Salam
Hormat,
FITRA.
Komentar
Posting Komentar