Cerpen "Bukan Masalah Hati"

Tengah malam aku terbangun dari lelapnya ketenangan jiwa. Kudengar tiap sajak dan bait bagai aksara tak bertulang. Raut wajahku mengisyaratkan keraguan atas hadirnya saat ini. Aku seketika terlupa bagaimana jatuh hati. Seakan hanya ada seonggok daging busuk dalam hatiku. Ah, mengapa aku malang seperti ini.
 

“Masih ragu kepadanya?” ia datang dari semak-semak belukar.
 

“Kau datang ternyata.”aku sedikit tenang atas kehadirannya.
 

“Mengapa?” ia bertanya kepadaku. Sungguh, aku tak memahami apa maksudnya ia bertanya seperti itu kepadaku.
 

“Aku baik-baik saja.” Jawabku sekenanya.
“Sedang bermimpi.” Balasnya datar.
 

“Tidak..” jawabku sigap. Ia tertawa sambil memandangiku.
 

“Hey, kau takut ya?” kali ini aku benar-benar hanya dapat mencerna kembali kata-kata yang baru saja keluar dari bibirnya.
 

“Kau ini seperti apa?” ia kembali mempertanyakan hal serupa kepadaku.
Aku enggan membalas pertanyannya ataupun menjawabnya.
 

“Kau hanya perlu satu kali lagi untuk menyakinkan apa yangberada dihati tentang dia.”
Tatapan kami berlabuh pada satu titik tanpa jeda.
 

“Kau bilang jiwamu berkenala jauh. Mengapa masih saja meragukannya?”
Bibirku kelu seketika. Mendongakkan kepala saja aku tak mampu.
 

“Harusnya kau dapat mengamatinya dari jiwamu.”
 

Aromanya menusuk, aku semakin takut tetapi ada banyak hal yang harus aku ketahui darinya.
 

“Hati-hati menjadi naïf.” Ia berusaha menyadarkan diriku.
 

“Menjadi naïf karena jiwaku?”
 

“Tentu saja, kau sendiri yang ingin mengakhirinya, bagaimana kalau menjadi naïf karena telah mengakhirinyanya?”

Aku menggeleng kepala dengan pelan.
 

Seperti dengkuran ditengah malam. Aku sangat terganggu saat hendak kembali tidur. Beranjak dari kenyamanan menuju sesuatu yang tidak nyaman. Kulihat arah jarum jam semakin mendekati fajar. Rayuanmu terlalu membius sehingga aku sulit untuk terpejam. Kembali bermimpi akan indahnya sang jiwa yang bebas.
 

Bukan masalah hati yang menjadi acuanku. Hanya saja tentang kenyamanan hati. Aku masih saja meragukannya, sehingga banyak suara berfrekuensi tinggi yang siap untuk mengusikku.
 

“Siapa yang akan menjawab?”
 

Aku memandanginya tanpa jeda untuk keseperkian detik lamanya.
 

“Ayo jawab…” ia mendesakku.
 

“Ini bukan masalah hati, hanya masalah antara aku dapat menerimanya melalui jiwaku yang bebas atau tidak.”
 

Lagi-lagi ia meremehkan aku.
 

“Kau bohong ya?”
 

Aku menggeleng kepala dengan sigap.
Melalui manik-manik mataku yang tajam aku menatapnya tanpa henti, “Ini benar, bukan masalah hati.”
Ia sedikit menganggukan kepala.
 

Biarkan saja dia tak mempercayaiku, setidaknya aku sudah berlaku jujur kepadanya. Bahwa ini bukan masalah hati, tetapi masalah jiwaku yang berkelana bebas. Aku tak tak tahu apakah ia akan bertahan saat aku menggunakan jiwaku. Biarkan kami bebas, berkelana sampai angin sendiri yang menjerat kami dan kami berhenti sandiwara.
 

(Cerpen Bukan Masalah Hati by Fitra)

Jogjakarta, 29 Juli 2014.

Komentar

Celoteh Paling Populer